![]() |
| Foto : H. Wahnyono |
Nuansametro.com - Karawang | Di usia yang tidak lagi muda, H. Wahnyono, warga Desa Mekarjaya, Kecamatan Purwasari, Kabupaten Karawang, tidak memilih diam. Ia justru berani melakukan lompatan usaha besar, meninggalkan bisnis agen sembako yang sudah dikelola bertahun‑tahun, lalu terjun membangun pertanian melon berbasis greenhouse.
Langkah ini bukan sekadar hobi, melainkan bukti nyata bahwa pertanian modern bisa menjadi alternatif masa depan bagi pelaku usaha dari berbagai latar belakang.
Dulu, hari‑harinya diisi dengan urusan administrasi dan layar komputer mengelola agen sembako.
Kini, usahanya tersebut dipercayakan kepada anaknya sebagai bagian dari regenerasi keluarga, sementara ia sendiri membuka lembaran baru di lahan pertanian.
"Usia saya sudah tidak muda lagi. Masa harus terus berada di depan komputer? Usaha agen sembako identik dengan komputer. Sekarang usaha tersebut saya serahkan kepada anak untuk menjadi generasi penerus," ungkap Wahnyono saat ditemui jurnalis Nuansametro.com, Rabu (28/10/2026).
Riset Dua Tahun Sebelum Menanam, Modal Rp350 Juta untuk Satu Unit Greenhouse
Sebelum menanam satu batang pun, Wahnyono tidak terburu‑buru. Ia melakukan riset dan pengamatan selama kurang lebih dua tahun untuk mempelajari peluang budidaya melon.
Dari hasil pengamatan itulah ia semakin yakin bahwa sektor ini memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan.
Keyakinan itu kemudian dituangkan dalam investasi nyata: sekitar Rp350 juta digelontorkan untuk membangun satu unit greenhouse dengan kapasitas sekitar 1.000 tanaman melon.
Bahkan lebih menarik, ia tidak hanya menanam satu jenis saja, melainkan menanam 11 varietas melon, mulai dari VA95 Pro, VA 838, VA T4 Pro, Valisas, Alodaya, Theblus, Sunny, Fuji SW, Honey, hingga Dalmati.
Keberagaman varietas ini bukan tanpa alasan: selain memperkuat daya saing produk, ia juga ingin memberikan pengalaman baru bagi konsumen yang ingin mengenal budidaya melon secara lebih dekat.
8 Persen Kegagalan Tanaman Jadi Pelajaran Berharga
Meski sudah melakukan persiapan matang, usaha perdana ini tetap menghadapi tantangan. Wahnyono mengakui bahwa pada penanaman pertama tingkat kegagalan tanaman mencapai sekitar 8 persen.
Namun, ia tidak menjadikannya alasan menyerah, melainkan bahan evaluasi untuk memperbaiki pengelolaan pada siklus berikutnya.
"Ini bagian dari proses. Kami belajar dari lapangan, karena pertanian modern pun tidak lepas dari risiko," ujarnya.
Langkah ini menunjukkan bahwa bisnis pertanian bukan sekadar menanam dan menunggu panen, tetapi juga membutuhkan perencanaan teknis, pemahaman risiko, serta kesabaran dalam mengelola hasil di lapangan.
Siapkan Wisata Petik Melon: Dari Bertani ke Agrowisata Berbasis Pengalaman
Visi Wahnyono tidak berhenti hanya pada budidaya dan penjualan buah. Ia berencana menghadirkan konsep wisata petik melon, di mana pengunjung nantinya bisa datang langsung ke lokasi, memilih buah, memetiknya sendiri, lalu menimbang dan membayar di tempat.
Model ini berpotensi mengubah lahan pertanian menjadi destinasi agrowisata yang menggabungkan produksi pertanian dengan pengalaman wisata.
Bahkan sebelum panen perdana, sudah banyak calon pengunjung yang datang menanyakan jadwal panen.
"Harapannya, wisata petik melon ini bisa menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung bisa memilih sendiri buah yang diinginkan, memetik, menimbang, kemudian membayarnya. Alhamdulillah, sudah banyak peminat yang datang menanyakan kapan melon mulai dipanen," harapnya.
Bukan Hanya untuk Petani Lama, Tetapi Juga untuk Pensiunan dan Generasi Muda
Kisah Wahnyono menjadi pesan kuat bagi masyarakat Karawang: pertanian modern tidak harus dimulai dari mereka yang sejak lahir menjadi petani.
Dengan riset, keberanian, dan perencanaan yang matang, sektor ini bisa menjadi jalan baru bagi para pensiunan pabrik, pelaku usaha yang ingin beralih bidang, maupun generasi muda yang mencari sumber penghasilan alternatif.
Namun ia juga mengingatkan: keberanian saja tidak cukup. Harus ada persiapan menyeluruh mulai dari teknik budidaya, perhitungan modal, hingga pemahaman risiko.
"Mudah‑mudahan panen perdana ini bisa memberikan hasil maksimal dan menjadi inspirasi bagi teman‑teman, khususnya para pensiunan pabrik maupun anak‑anak muda yang ingin menambah penghasilan," tuturnya.
Dengan greenhouse dan rencana agrowisata petik melonnya, H. Wahnyono kini bukan sekadar mantan agen sembako yang beralih profesi, tetapi juga pelopor kecil yang membuktikan bahwa di Karawang pun ada harapan besar dari lahan pertanian yang dikelola secara modern.
• Bodong

0 Komentar