![]() |
| Foto : PT Anak Kulon Group menguji coba drone pertanian berkapasitas besar di Lapangan PSPT Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (15/9/2026). |
Nuansametro.com - Jakarta | Modernisasi sektor pertanian mulai diarahkan pada pemanfaatan teknologi untuk menjawab persoalan keterbatasan tenaga kerja sekaligus meningkatkan efisiensi budidaya. PT Anak Kulon Group mengambil langkah tersebut dengan menguji coba drone pertanian berkapasitas besar di Lapangan PSPT Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (15/9/2026).
Uji coba itu dihadiri Komisaris PT Anak Kulon Group Elpin Subagus, Direktur Andi M, Manager Operasional Ivandi, serta tim teknis dan operasional perusahaan.
Drone sprayer yang diuji diperagakan untuk sejumlah fungsi, mulai dari penyemprotan presisi, pemetaan lahan hingga manuver di area terbuka.
Menurut perusahaan, hasil pengujian menunjukkan perangkat dapat beroperasi secara stabil dan efisien serta dipersiapkan untuk penggunaan di lahan pertanian berskala luas.
Komisaris PT Anak Kulon Group, Elpin Subagus, menilai mekanisasi pertanian menjadi salah satu instrumen untuk menghadapi tantangan tenaga kerja di sektor pertanian.
“Teknologi tidak boleh hanya ada di kota. Petani kita di daerah harus merasakan manfaatnya.”
Elpin mengatakan perusahaan tidak ingin sekadar berorientasi pada penjualan alat, tetapi juga mendorong pemanfaatan teknologi yang dinilai dapat mendukung produktivitas pertanian.
“Drone ini adalah jawaban untuk krisis tenaga kerja dan untuk meningkatkan hasil panen. Kami di PT Anak Kulon Group punya visi besar, tidak hanya menjual alat, tapi membantu ketahanan pangan negara,” katanya.
Selain bidang pengadaan alat pertanian, PT Anak Kulon Group juga menyebut memiliki kegiatan usaha di bidang olahraga, keamanan, pariwisata serta pengadaan sepatu dan seragam.
Bidik Dua Sentra Pangan
Direktur PT Anak Kulon Group, Andi M, mengungkapkan perusahaan telah menyiapkan rencana implementasi drone pertanian di dua wilayah yang disebut sebagai sentra pangan, yakni Merauke, Papua Selatan, dan Indramayu, Jawa Barat.
“Hari ini kami tes di PSPT Tebet untuk memastikan semua sistem siap. Ke depan, kami sudah menyiapkan implementasi drone pertanian ini di dua lumbung pangan nasional, yaitu di Merauke, Papua Selatan dan di Indramayu, Jawa Barat,” ujar Andi.
Menurut Andi, karakteristik kedua wilayah tersebut membutuhkan pendekatan mekanisasi yang berbeda.
Merauke, kata dia, diproyeksikan untuk mendukung kegiatan pertanian dalam skala luas. Sementara di Indramayu, teknologi drone diarahkan untuk membantu kelompok tani meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan pestisida.
“Di Merauke kami akan bantu untuk penyemprotan skala luas. Di Indramayu, kami fokus bantu kelompok tani agar lebih efisien, hemat air hingga 90 persen, dan petani lebih aman karena tidak kontak langsung dengan bahan kimia,” jelasnya.
Ia juga menyebut satu unit drone dapat digunakan untuk menyelesaikan penyemprotan satu hektare dalam waktu sekitar 15–20 menit. Angka tersebut merupakan klaim operasional yang disampaikan perusahaan dan dapat bergantung pada kondisi lahan, jenis pekerjaan, serta konfigurasi perangkat.
Siapkan Pilot Lokal hingga Layanan Purna Jual
Manager Operasional PT Anak Kulon Group, Ivandi, mengatakan pengembangan teknologi tidak berhenti pada penyediaan unit drone. Perusahaan juga menyiapkan pelatihan pilot drone lokal, layanan purna jual dan ketersediaan suku cadang.
Langkah tersebut, menurut perusahaan, diperlukan agar penggunaan teknologi dapat berjalan secara berkelanjutan dan tidak berhenti setelah pengadaan perangkat.
Sejalan dengan uji coba tersebut, PT Anak Kulon Group membuka penawaran kerja sama pengadaan drone pertanian bagi dinas pertanian provinsi maupun kabupaten/kota, kelompok tani, Gapoktan dan koperasi, perusahaan perkebunan serta pengelola food estate, termasuk mitra tender pemerintah dan swasta.
Paket yang ditawarkan mencakup drone berkapasitas 30 liter dan 40 liter dengan sejumlah fitur, di antaranya GPS presisi, sensor antitabrakan dan mode penyemprotan otomatis.
Perusahaan juga menawarkan garansi resmi, pelatihan pilot bersertifikat serta layanan pusat servis yang diklaim tersedia di berbagai wilayah Indonesia.
Melalui pengembangan teknologi tersebut, PT Anak Kulon Group menyatakan ingin mengambil bagian dalam mendorong mekanisasi pertanian dan mendukung agenda ketahanan pangan nasional.
Pewarta: Zul

0 Komentar