Headline News

Proyek Turap Rp189 Juta di Mekarjati Jadi Perbincangan, Warga dan PUPR Buka Suara

Foto : Pembangunan turap jalan poros di Kelurahan Mekarjati, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang.

Nuansametro.com – Karawang | Pembangunan turap jalan poros di Kelurahan Mekarjati, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang, menjadi perhatian di tengah kebutuhan masyarakat terhadap infrastruktur jalan yang lebih aman dan kokoh.

Proyek sepanjang 281 meter yang dikerjakan CV Karya Uston Rizandy dengan nilai kontrak Rp189.299.000 itu disebut warga sebagai pekerjaan yang memang telah lama dinantikan.

Sempat beredar informasi mengenai adanya keluhan warga terkait pelaksanaan proyek, khususnya kondisi air di sekitar lokasi pekerjaan. Namun, informasi tersebut dibantah oleh warga setempat yang ditemui di lokasi.

US, salah seorang warga, menegaskan bahwa masyarakat justru memberikan apresiasi terhadap pembangunan turap tersebut.

"Sebenarnya adanya pekerjaan penurapan ini bagi kami sebagai masyarakat sangat mengapresiasi. Di sini tidak ada warga yang mengatakan seperti apa yang ramai dibicarakan," ujar US, Sabtu (19/9/2026).

Menurutnya, persoalan air yang sempat muncul bukan semata-mata berkaitan dengan pekerjaan proyek. Saat ini para petani di sekitar lokasi sedang membutuhkan pasokan air karena memasuki masa tanam padi.

"Kalau soal air, kan di sini para petani sedang butuh pasokan air. Masa harus dikeringkan, ini baru menanam bibit padi untuk tandur. Kalau dikeringkan bagaimana?" katanya.

Pernyataan tersebut diperkuat HE, warga lainnya. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan pengairan sawah menjadi pertimbangan tersendiri dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

HE mengatakan, sebelumnya pihak konsultan memang meminta agar saluran air dikeringkan untuk menunjang pekerjaan. Namun, karena petani membutuhkan air, debit air akhirnya hanya dikurangi sementara.

"Saat ini para petani sedang menanam bibit padi untuk nanti ditandur, sehingga air hanya dikurangi saja debitnya," jelas HE.

Ia menilai pembangunan turap sangat penting karena kondisi jalan di sekitar lokasi sebelumnya berpotensi mengalami longsor atau pelebaran akibat tergerus air.

Selain menjaga konstruksi badan jalan, keberadaan turap juga diharapkan meningkatkan keselamatan pengguna jalan.

"Kami sebagai masyarakat tentunya sangat mengapresiasi. Selain untuk menjaga konstruksi tanah pada jalan agar tidak amblas dan melebar, juga untuk menjaga keamanan kendaraan roda empat karena ada kendaraan yang terperosok saat berpapasan," ungkapnya.

HE pun menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Karawang, dinas terkait, dan pihak pelaksana atas terealisasinya pembangunan tersebut.

Pelaksana: Air Sempat Dialirkan untuk Petani

Sementara itu, Mandor Lapangan, Otoy, tidak menampik bahwa terdapat penyesuaian pengaturan air selama proses pengerjaan berlangsung.

Namun, ia menegaskan bahwa sejak awal lokasi pekerjaan telah dikeringkan sesuai arahan.

"Sebenarnya untuk kondisi air dari awal pengerjaan juga sudah dikeringkan sesuai arahan. Tapi karena petani yang sawahnya tidak jauh dari lokasi membutuhkan air untuk tandur, air sementara kami alirkan dulu. Sekarang sudah kami tutup lagi," terang Otoy.

Artinya, kondisi air yang sempat menjadi perhatian tersebut bukan berlangsung permanen. Pengaturan dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan pekerjaan sekaligus aktivitas pertanian masyarakat sekitar.

PUPR Tegaskan Pekerjaan Mengikuti Arahan Teknis

Dari sisi pengawasan, Asep selaku pengawas Dinas PUPR menjelaskan bahwa pelaksanaan proyek sejak awal telah diarahkan sesuai ketentuan pekerjaan.

Ia juga memberikan klarifikasi terkait kondisi air yang sempat disebut sebagai banjir di sekitar lokasi.

"Untuk proses pengerjaan sejak awal sudah kami instruksikan dan arahkan kepada mandor lapangan. Kemudian untuk kondisi banjir sebagaimana rumor yang beredar itu hanya bersifat sementara karena memang petani sedang membutuhkan pasokan air untuk menanam padi atau tandur," ujar Asep.

Menurutnya, setelah kebutuhan pengairan petani terpenuhi, kondisi air kembali dikeringkan untuk melanjutkan pekerjaan.

Asep juga menyebut pemasangan kisdam tidak tercantum dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) proyek.

"Mengenai proses pengerjaan sejak awal kami sudah mengerjakan sesuai arahan. Kemudian untuk pemasangan kisdam itu tidak ada di dalam RAB," pungkasnya.

Dengan adanya klarifikasi dari warga, pelaksana, dan pengawas Dinas PUPR, isu mengenai kondisi air di lokasi proyek mendapat penjelasan langsung dari pihak-pihak yang berada di lapangan.

Kini, perhatian masyarakat bergeser pada hasil akhir pekerjaan. Dengan nilai kontrak hampir Rp190 juta dan panjang pekerjaan mencapai 281 meter, warga berharap turap tersebut benar-benar dikerjakan sesuai spesifikasi, kokoh, serta mampu menjaga badan jalan dari ancaman longsor dan kerusakan.

Sebab, bagi masyarakat, ukuran keberhasilan proyek bukan sekadar pekerjaan selesai, tetapi seberapa lama infrastruktur tersebut mampu memberikan rasa aman dan manfaat bagi warga.


• Kojek 

0 Komentar

Posting Komentar
© Copyright 2022 - Nuansa Metro