![]() |
| Foto : RSUD Kabupaten Karawang |
Nuansametro.com - Karawang | Instalasi Gawat Darurat RSUD Kabupaten Karawang kini beroperasi melampaui batas kemampuan maksimal. Meski kapasitas tempat tidur telah diperluas dari 30 menjadi 41 unit, keterisian justru menyentuh angka 55 pasien dalam sehari.
Sekitar 15 orang terpaksa antre di luar ruang utama, bahkan tertahan di dalam ambulans maupun kendaraan rujukan.
Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Karawang, dr. Parlindungan, mengungkapkan tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit secara keseluruhan mencapai 90–95 persen, melampaui ambang batas ideal 80 persen.
Lonjakan paling tajam terjadi pada pasien anak-anak yang menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), menyumbang 30 persen dari total kunjungan harian.
“Ruangan anak hampir setiap hari 100 persen penuh. Dulu tidak sampai segini,” ujar Parlindungan kepada wartawan.
Faktor cuaca ekstrem, udara kering, serta banyaknya debu diduga menjadi pemicu melonjaknya penularan penyakit saluran pernapasan. Pihak rumah sakit telah melaporkan data tersebut ke Pemerintah Provinsi untuk penelusuran lebih lanjut.
Guna mengatasi kepadatan, manajemen menerapkan penyesuaian ruangan: bangsal dewasa yang masih memiliki sisa tempat dialihfungsikan sementara untuk perawatan anak.
Pasien juga dipindahkan ke kelas yang tersedia tanpa memandang status kepesertaan 98 persen pasien adalah peserta BPJS Kesehatan, dan semuanya dilayani tanpa perbedaan.
“Tidak ada pasien yang dibeda-bedakan. Ruang kosong langsung kami isi, bahkan naik kelas jika diperlukan agar mereka segera terlayani,” tegas dr. Parlindungan.
Ia juga meluruskan isu pembatasan durasi rawat inap. “Tidak ada aturan harus pulang di hari ke-3 atau ke-5. Semua murni berdasarkan keputusan medis. Rata-rata lama rawat kami 4,5 hari,” jelasnya.
Penundaan penempatan pasien, katanya, bukan karena ditahan, melainkan karena spesifikasi ruangan seperti ruang isolasi yang harus disterilkan atau ruang khusus anak yang tidak dapat dicampur dengan pasien dewasa.
RSUD Karawang memohon agar Puskesmas dan klinik tingkat pertama dapat menangani kasus ISPA ringan secara mandiri. Mekanisme rujukan berjenjang diharapkan berjalan efektif, sehingga hanya kasus dengan komplikasi seperti asma akut atau pneumonia yang dikirim ke RSUD.
Masyarakat pun diimbau meningkatkan pencegahan mandiri: perbanyak minum air putih, konsumsi gizi seimbang, istirahat cukup, serta melakukan vaksinasi influenza, terutama bagi anak-anak dan lansia.
• irfan

0 Komentar