Nuansametro.com - Karawang | Suasana haru dan penuh kekhidmatan mewarnai pendaftaran bakal calon Kepala Desa Cengkong, Kecamatan Purwasari, Kabupaten Karawang, Kamis (10/9).
Rusta Miharja, atau yang akrab disapa RT Aja, resmi mendaftarkan diri sebagai calon Kepala Desa Cengkong. Sosok yang selama ini dikenal sebagai Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) tersebut datang ke sekretariat panitia bukan sekadar dengan rombongan pendukung, tetapi juga membawa pesan tentang pengabdian dan pelayanan kepada masyarakat.
Kedatangan RT Aja sontak menjadi perhatian. Ia diiringi para relawan, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, serta pendukungnya.
Lantunan sholawat yang mengiringi langkahnya menciptakan suasana khidmat dan emosional.
Antusiasme warga pun terlihat sepanjang perjalanan menuju sekretariat panitia.
Warga tumpah ruah memberikan dukungan kepada pria yang selama ini dikenal dekat dengan masyarakat lapisan bawah tersebut.
Namun, ada satu momen yang paling menyentuh perhatian.
Di tengah riuhnya dukungan warga, sosok orang tua RT Aja yang sudah lanjut usia tetap hadir mengantarkan putranya mendaftarkan diri sebagai calon kepala desa.
Dengan kondisi yang mulai rapuh karena usia, sang orang tua tetap memilih berjalan bersama anaknya. Pemandangan tersebut menjadi simbol dukungan keluarga sekaligus doa bagi langkah RT Aja dalam kontestasi Pilkades Cengkong.
Dari PSM untuk Desa Cengkong
RT Aja bukan sosok yang tiba-tiba muncul menjelang Pilkades.
Selama bertahun-tahun, ia dikenal sebagai PSM Desa Cengkong yang banyak bersentuhan langsung dengan persoalan sosial masyarakat.
Mulai dari membantu warga kurang mampu, penyandang disabilitas, hingga masyarakat yang membutuhkan akses terhadap bantuan sosial.
Pengalaman tersebut membuatnya terbiasa berada di tengah persoalan warga.
Kini, pengalaman sebagai pekerja sosial itu ingin dibawanya ke level pemerintahan desa.
“Saya ini hanya seorang PSM Desa. Tugas saya selama ini melayani. Hari ini saya memberanikan diri mendaftar sebagai calon Kepala Desa Cengkong karena saya ingin pengabdian saya lebih luas lagi,” ujar RT Aja usai mendaftarkan diri.
Menurutnya, jika mendapat kepercayaan masyarakat, pengalaman selama menjadi PSM akan menjadi modal untuk membangun sistem pelayanan desa yang lebih dekat dengan kebutuhan warga.
“Saya ingin dari pengalaman saya sebagai PSM, saya bisa membangun sistem pelayanan desa yang lebih peduli dan tidak mempersulit warga,” katanya.
RT Aja juga menegaskan bahwa dirinya tidak ingin menjadikan jabatan kepala desa sebagai simbol kekuasaan.
“Saya RT Aja, orangnya begini adanya, sederhana. Saya tidak punya apa-apa selain niat tulus. Terima kasih warga sudah mengiringi saya dengan sholawat. Ini adalah doa,” ucapnya.
Ia pun menyampaikan satu prinsip yang menjadi dasar pencalonannya.
“Jika Allah merestui dan warga percaya, saya siap jadi pelayan, bukan jadi penguasa di Desa Cengkong,” tegasnya.
Sang Istri: Siang Malam Mengurusi Warga
Di balik langkah RT Aja menuju kontestasi Pilkades Cengkong, terdapat dukungan keluarga yang tak kalah kuat.
Sang istri hadir mendampingi langsung proses pendaftaran. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengungkapkan bagaimana selama ini suaminya menjalankan tugas sebagai PSM.
“Sebagai istri, saya tahu persis bagaimana suami saya bekerja sebagai PSM Desa. Siang malam mengurusi warga,” tuturnya.
Ia berharap niat suaminya untuk mengabdi melalui pemerintahan desa mendapat kemudahan dan dukungan dari masyarakat.
“Saya hanya bisa mendoakan, semoga niat baik suami saya untuk Desa Cengkong dimudahkan Allah SWT. Mohon doa dan dukungan dari seluruh warga untuk RT Aja,” katanya.
Kontestasi Cengkong Mulai Memanas
Dengan resminya RT Aja mendaftarkan diri, peta persaingan Pilkades Cengkong semakin menarik untuk diperhatikan.
Kehadiran sosok yang lahir dari aktivitas sosial kemasyarakatan dan memiliki kedekatan dengan warga akar rumput berpotensi menjadi warna tersendiri dalam kontestasi.
Bagi RT Aja, pencalonan tersebut bukan sekadar pertarungan merebut kursi kepala desa.
Ia membawa narasi sederhana: pengabdian yang selama ini dilakukan sebagai PSM ingin diperluas melalui pemerintahan desa.
Kini, keputusan berada di tangan masyarakat Cengkong.
Apakah sosok sederhana dari kalangan pekerja sosial ini mampu mengubah pengalaman pengabdian di tengah warga menjadi kekuatan politik dalam Pilkades?
Pilkades Cengkong pun perlahan memasuki babak yang semakin menarik.
• Fitri
0 Komentar