Headline News

Di Tengah Gempuran Era Digital, Kharisma Marantika Pilih Wayang dan Jadi Dalang Cilik Terbaik Karawang

Foto : Kharisma Marantika Suhana

Nuansametro.com - Karawang | Kecintaan terhadap budaya tradisional terkadang lahir dari sesuatu yang sederhana. Bagi Kharisma Marantika Suhana, 12 tahun, semuanya bermula dari sebuah wayang yang dibelinya secara iseng saat berkunjung ke Lembur Pakuan, tempat yang dikenal sebagai kediaman Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, benda yang awalnya dibeli karena rasa penasaran itu justru menjadi pintu masuk bagi Kharisma untuk mengenal lebih jauh dunia pewayangan.

Siswi kelas 6 SDIT Lampu Iman tersebut perlahan mulai tertarik mempelajari wayang. Rasa ingin tahu yang awalnya sederhana berkembang menjadi kecintaan terhadap seni tradisional yang sarat dengan cerita, filosofi, sejarah, hingga pesan-pesan kehidupan.

Di saat sebagian besar anak seusianya lebih akrab dengan gawai dan hiburan digital, Kharisma justru memilih mendekat pada dunia wayang.

Kecintaan itu kemudian tidak berhenti sebatas ketertarikan. Pada Agustus 2026, Kharisma mengikuti pentas perlombaan Wayang Golek Dalang Cilik tingkat Kabupaten Karawang.

Di atas panggung, ia menunjukkan kemampuannya memainkan wayang sekaligus membawakan seni pedalangan dengan penuh percaya diri.

Kerja keras dan kecintaannya terhadap budaya tradisional berbuah prestasi. Kharisma berhasil meraih Juara I Dalang Cilik tingkat Kabupaten Karawang Tahun 2026.

Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa seni tradisional masih mampu menemukan tempat di hati generasi muda. Bahkan, ketertarikan seorang anak terhadap budaya tidak selalu harus dimulai melalui proses yang formal. Bisa tumbuh dari sebuah kunjungan, rasa penasaran, atau bahkan dari keputusan sederhana membeli sebuah wayang.

Bagi Kharisma, wayang kini bukan lagi sekadar benda tradisional. Wayang telah menjadi media untuk belajar memahami cerita, karakter, nilai kehidupan sekaligus kekayaan budaya Indonesia.

Perjalanan Kharisma juga memperlihatkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan generasi muda. Ketika anak-anak diberi ruang untuk mengenal, mempelajari, dan tampil membawa budaya tradisional, warisan tersebut memiliki peluang lebih besar untuk terus hidup di tengah perubahan zaman.

Kharisma berharap kecintaannya terhadap dunia pedalangan dapat terus berkembang. Ia ingin apa yang dipelajarinya bukan hanya menjadi prestasi pribadi, tetapi juga menjadi bagian kecil dari upaya mengenalkan wayang kepada anak-anak seusianya.

Dari sebuah pembelian yang awalnya hanya dianggap iseng, lahirlah seorang dalang cilik yang kini berdiri sebagai juara.

Kisah Kharisma menjadi pesan sederhana, budaya tidak akan pernah benar-benar tua selama masih ada generasi muda yang mau mengenal, mencintai, dan menjaganya. (***)

0 Komentar

Posting Komentar
© Copyright 2022 - Nuansa Metro