![]() |
| Foto : Warga cengkong saat iring - iringan mendampingi RT Aja daftar |
Nuansametro.com - KARAWANG | Pendaftaran bakal calon kepala desa di Kabupaten Karawang umumnya identik dengan iring-iringan massa, atribut kampanye, baliho, hingga kemeriahan yang menyita perhatian.
Namun, suasana berbeda terlihat saat Rusta Miharja, yang akrab disapa RT Aja, mendaftarkan diri sebagai calon Kepala Desa Cengkong, Kecamatan Purwasari, Rabu (10/9).
Bukan kemewahan yang tampak. Bukan pula konvoi kendaraan dalam jumlah besar.
Yang justru mencuri perhatian adalah warga yang datang membawa makanan dari rumah masing-masing.
Sebagian membawa rantang berisi nasi. Ada yang membawa gorengan, kue bolu, hingga nasi liwet lengkap dengan sambal dan lalapan.
Sebagian warga bahkan berencana menggelar makan bersama atau ngaliwet sebagai bentuk syukuran atas pendaftaran RT Aja.
Pemandangan sederhana itu justru menghadirkan suasana yang menggetarkan.
Lantunan sholawat mengiringi rombongan menuju lokasi pendaftaran. Di tengah suasana tersebut, orang tua RT Aja yang sudah lanjut usia turut hadir mengantarkan putranya.
Bagi sejumlah warga, kehadiran mereka bukan sekadar mengantar seorang bakal calon kepala desa. Ada ikatan emosional yang membuat momen tersebut terasa berbeda.
Salah seorang warga yang membawa makanan mengaku makanan tersebut dibuat sendiri di rumah tanpa ada paksaan.
“Ini murni dari hati kami untuk dukungan RT Aja. Tidak ada yang menyuruh. Kami bikin makanan sendiri dari rumah untuk RT Aja. Bahkan nanti malam kami mau ngeliwet bareng di rumah. Ini murni kecintaan warga. Tanpa money politik pun, kita tetap dukung RT Aja.”
Pernyataan tersebut menjadi gambaran bagaimana sebagian warga melihat sosok RT Aja. Dukungan, menurut mereka, diberikan bukan karena imbalan, melainkan karena kedekatan dan pengalaman selama berinteraksi dengan dirinya.
Dikenal sebagai Pekerja Sosial Masyarakat
Di Desa Cengkong, Rusta Miharja bukan sosok yang baru muncul ketika momentum pemilihan kepala desa tiba.
Ia dikenal sebagai Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), yang selama ini bersentuhan langsung dengan persoalan warga, khususnya dalam urusan sosial dan pelayanan masyarakat.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan dirinya merasa memiliki tanggung jawab untuk maju dalam kontestasi pemilihan kepala desa.
Dengan mata berkaca-kaca, RT Aja mengaku tidak menyangka warga memberikan dukungan dengan cara yang begitu sederhana sekaligus menyentuh.
“Saya hanya seorang PSM Desa. Saya terharu warga bawa makanan untuk saya. Saya tidak bisa balas apa-apa. Saya hanya bisa janji, jika saya diamanahi jadi Kepala Desa Cengkong, saya akan melayani warga seperti saya melayani selama menjadi PSM. Dua puluh empat jam pintu saya terbuka untuk warga.”
Kalimat itu disampaikan di tengah suasana haru yang menyelimuti rombongan.
Bagi RT Aja, dukungan tersebut bukan sekadar angka massa. Ada kepercayaan warga yang menurutnya harus dijawab dengan kerja dan pelayanan apabila kelak mendapatkan amanah.
Air Mata Sang Istri
Keharuan juga dirasakan sang istri yang mendampingi RT Aja saat proses pendaftaran.
Ia mengaku mengetahui betul bagaimana suaminya menjalankan tugas sebagai PSM dan berinteraksi dengan masyarakat.
“Saya sebagai istri hanya bisa mendoakan. Saya tahu betul bagaimana suami saya sebagai PSM Desa bekerja siang malam untuk warga. Melihat warga bawa makanan dan mau ngaliwet bareng untuk suami saya, saya hanya bisa menangis haru. Terima kasih warga Cengkong, mohon doakan suami saya.”
Bagi sang istri, dukungan tersebut menjadi bentuk penghargaan masyarakat terhadap apa yang selama ini dilakukan suaminya.
Politik Tak Selalu Tentang Baliho dan Konvoi
Momen pendaftaran RT Aja menunjukkan sisi lain dari politik di tingkat desa.
Di tengah kontestasi yang kerap diwarnai perang atribut, pengerahan massa, dan berbagai bentuk kemeriahan, warga Cengkong justru memperlihatkan dukungan dengan cara yang sangat sederhana: membawa makanan dari dapur rumah mereka sendiri.
Tentu, klaim mengenai tidak adanya money politics merupakan pernyataan warga dan belum dapat dimaknai sebagai kesimpulan atas seluruh proses politik yang berlangsung.
Namun, secara sosial, pemandangan tersebut memperlihatkan adanya dukungan emosional dari sebagian warga kepada sosok RT Aja.
Pada akhirnya, pemilihan kepala desa bukan hanya soal siapa yang paling ramai menggelar konvoi atau siapa yang paling besar memasang baliho.
Lebih jauh, kontestasi itu akan diuji pada seberapa kuat seorang calon mampu membangun kepercayaan dan menjawab harapan masyarakat.
Dan pada hari pendaftaran RT Aja, sebagian warga Cengkong memilih menyampaikan dukungan mereka bukan dengan kemewahan.
Mereka datang membawa se-rantang makanan dari rumah, lantunan sholawat, dan doa.
Sederhana. Namun bagi RT Aja dan keluarganya, mungkin itulah bentuk dukungan yang paling sulit dibalas selain dengan bekerja dan menjaga amanah.
• Fitri

0 Komentar