![]() |
| Foto : Kepala SDN Cengkong 3, Atin Supriatin, S.Pd., |
Nuansametro.com - Karawang | Krisis ruang kelas masih menjadi persoalan serius di SDN Cengkong 3, Kecamatan Purwasari, Kabupaten Karawang. Dengan jumlah peserta didik yang telah menembus lebih dari 600 siswa, sekolah tersebut hingga kini hanya memiliki enam ruang kelas.
Kondisi itu memaksa pihak sekolah menerapkan sistem pembelajaran dua hingga tiga sif. Aktivitas belajar mengajar bahkan berlangsung sejak pukul 06.30 hingga sekitar pukul 17.20.
Kepala SDN Cengkong 3, Atin Supriatin, S.Pd., mendesak pemerintah segera memberikan kepastian terkait pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB). Menurutnya, penambahan ruang kelas bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan sudah menjadi persoalan mendesak untuk menjamin proses pembelajaran berjalan layak.
“Yang dibutuhkan saat ini bangunan kelas karena muridnya lebih dari 600, sedangkan kelasnya hanya ada enam,” tegas Atin saat diwawancarai eksklusif jurnalis Nuansa Metro, Kamis (20/8/2026).
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, kegiatan belajar mengajar dibagi ke dalam beberapa sif, mulai pagi, siang hingga sore. Pengaturan jadwal dilakukan secara bergantian agar seluruh siswa tetap mendapatkan layanan pembelajaran.
Namun, kondisi tersebut dinilai tidak ideal apabila terus berlangsung dalam jangka panjang. Padatnya aktivitas sekolah juga berdampak terhadap penggunaan fasilitas lain, termasuk lapangan sekolah yang menjadi lokasi berbagai kegiatan.
Lahan Sudah Ada, Kepastian Pembangunan Belum Jelas
Atin menjelaskan, sebenarnya sekolah telah memiliki lahan yang dinilai memadai untuk pembangunan beberapa ruang kelas baru. Lahan tersebut memiliki luas sekitar 2.500 meter persegi dan telah bersertifikat.
“Tanahnya sudah ada sertifikat, luasnya sekitar 2.500 meter persegi. Jadi, kalau mendapatkan RKB, lahan tersebut cukup untuk beberapa kelas,” ujarnya.
Meski demikian, sebagian lahan masih berkaitan dengan keberadaan rumah warga yang perlu direlokasi. Menurut Atin, pemerintah desa telah menyediakan lahan bagi masyarakat yang akan direlokasi sehingga persoalan tersebut diharapkan dapat diselesaikan apabila pembangunan RKB telah mendapatkan persetujuan dari dinas terkait.
Dukungan di tingkat kecamatan, kata Atin, juga telah ada. Kini pihak sekolah tinggal menunggu kepastian dari pemerintah daerah melalui dinas terkait mengenai realisasi pembangunan tersebut.
“Sudah ada dukungan, tinggal bagaimana kepastian dari dinas terkait,” katanya.
Orang Tua Siswa Ikut Keluhkan Kondisi Sekolah
Keterbatasan ruang kelas juga mulai dirasakan langsung oleh orang tua siswa. Selain persoalan ruang belajar, kondisi lapangan sekolah yang digunakan untuk berbagai aktivitas dinilai semakin kurang tertata akibat tingginya kepadatan kegiatan.
Atin menyebut mayoritas peserta didik SDN Cengkong 3 berasal dari kawasan perumahan di sekitar sekolah. Hal itu menjadi salah satu faktor yang membuat jumlah siswa terus meningkat.
“Keluhan dari orang tua siswa salah satunya mengenai kondisi lapangan yang semrawut. Mereka berharap kelas bisa ditambah karena anak-anak yang bersekolah di SD Cengkong 3 kebanyakan berasal dari perumahan, sehingga jumlahnya banyak,” ungkapnya.
Menurutnya, kebutuhan RKB semakin mendesak karena pertumbuhan jumlah siswa tidak sebanding dengan kapasitas ruang kelas yang tersedia.
Delapan Tahun Menunggu, Sekolah Minta Kepastian
Atin mengatakan pihak sekolah berencana kembali mendatangi dinas terkait bersama jajaran guru untuk menyampaikan kebutuhan pembangunan RKB sekaligus meminta kejelasan mengenai rencana tersebut.
Ia menegaskan, pihak sekolah tidak ingin persoalan pembangunan ruang kelas baru hanya berhenti pada janji atau wacana tanpa kepastian waktu.
“Kami berharap segera ada kepastian. Kalau memang akan ada ruang kelas baru, semua personel guru di sini siap datang untuk membicarakan kapan dan tahun berapa pembangunannya. Jangan sampai hanya menjadi harapan tanpa kepastian. Sudah sekitar delapan tahun kami menunggu, tetapi sampai sekarang belum ada kabar lagi,” tegas Atin.
Pihak sekolah berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret. Sebab, dengan lebih dari 600 siswa dan hanya enam ruang kelas, penerapan sistem sif yang berlangsung hingga sore dinilai bukan solusi yang ideal untuk terus dipertahankan.
Realisasi pembangunan RKB di SDN Cengkong 3 diharapkan tidak hanya menambah kapasitas ruang belajar, tetapi juga menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih nyaman, tertib, dan efektif bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Kini, setelah delapan tahun menunggu, pihak sekolah kembali mempertanyakan satu hal: kapan pembangunan RKB SDN Cengkong 3 benar-benar direalisasikan?
• Bodong

0 Komentar