Foto : Pembersihan ceceran tanah merah di jalan desa Tegalsari dan desa Sukasari 

Nuansametro.com - Karawang | Keluhan warga terkait debu dan ceceran tanah dari kendaraan pengangkut material proyek pengurukan perumahan di wilayah Dusun Pakopen, Desa Tegalsari, Kecamatan Purwasari, Kabupaten Karawang, mendapat tanggapan dari Karang Taruna Desa Tegalsari dan Karang Taruna Desa Sukasari.

Kedua organisasi kepemudaan tersebut menegaskan bahwa persoalan kebersihan jalan tidak dibiarkan begitu saja. 

Mereka mengaku telah turun langsung melakukan penyiraman dan pembersihan jalan secara rutin untuk menekan dampak debu yang ditimbulkan aktivitas kendaraan proyek.

Ketua Karang Taruna Desa Tegalsari, Ina Kaisar, bersama Ketua Karang Taruna Desa Sukasari, Leman, menyampaikan bahwa pihaknya selama ini berupaya maksimal menjaga kondisi jalan yang menjadi jalur lalu lintas truk pengangkut tanah.

“Kami dari Karang Taruna dua desa, Tegalsari dan Sukasari, sudah melaksanakan kebersihan secara maksimal. Jalan yang dilalui truk tanah itu rutin kami siram setiap hari agar tidak ngebul, dan ceceran tanahnya kami skop agar kondisi jalan tetap bersih,” ujar Ina Kaisar saat dikonfirmasi, Kamis (21/8/2026).

Menurut Ina, penyiraman dilakukan berulang kali, terutama ketika intensitas kendaraan pengangkut tanah meningkat hingga sore hari. 

Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi debu yang berpotensi mengganggu kenyamanan warga maupun pengguna jalan.

Namun demikian, Ina menegaskan bahwa upaya pembersihan tidak serta-merta menghilangkan sumber persoalan. 

Aktivitas kendaraan berat yang keluar-masuk lokasi proyek tetap menjadi faktor utama munculnya ceceran tanah di badan jalan.

Karena itu, ia meminta pihak pengembang dan pengemudi armada turut meningkatkan tanggung jawab, terutama dalam memastikan kendaraan tidak membawa material tanah yang berlebihan hingga tercecer sepanjang perjalanan.

Foto : Ketua Karang Taruna Desa Sukasari, Leman dan Ketua Karang Taruna Desa Tegalsari, Ina Kaisar.

Senada dengan Ina, Ketua Karang Taruna Desa Sukasari, Leman, mengatakan pihaknya tidak hanya melakukan penyiraman, tetapi juga langsung membersihkan setiap kali menemukan ceceran tanah di jalan.

“Kami sigap di lapangan. Begitu ada ceceran, langsung kami bersihkan. Kami skop, kami sapu, lalu kami siram. Tujuannya agar debu tidak beterbangan dan jalan tetap aman dilalui warga,” kata Leman.

Leman mengakui keluhan warga merupakan hal yang wajar mengingat aktivitas truk dalam jumlah banyak berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan sekitar. 

Karena itu, menurutnya, penyelesaian persoalan tidak cukup hanya dengan mengandalkan Karang Taruna.

“Kami memahami keluhan warga. Makanya kami dari Karang Taruna hadir untuk menjadi jembatan. Kami tidak tinggal diam. Kalau ada debu, kami yang turun langsung membersihkan,” tegasnya.

Bukan Sekadar Bersih-Bersih, Sumber Masalah Harus Dikendalikan

Klarifikasi Karang Taruna dua desa ini sekaligus menegaskan bahwa persoalan debu dan ceceran tanah tidak tepat jika hanya dilihat dari sisi kebersihan jalan.

Penyiraman dan penyapuan merupakan langkah penanganan di lapangan, tetapi sumber persoalan tetap berada pada aktivitas kendaraan pengangkut material yang melintas secara intensif.

Karena itu, Karang Taruna Tegalsari dan Sukasari berkomitmen memperkuat koordinasi dengan pihak pengembang serta para pengemudi armada agar ceceran tanah dapat diminimalisir sejak dari kendaraan sebelum memasuki jalan umum.

Keduanya juga memastikan kegiatan penyiraman dan pembersihan akan terus dilakukan selama aktivitas kendaraan proyek masih berlangsung.

Di sisi lain, keluhan masyarakat tetap menjadi perhatian. Sebab, ketika tanah yang tercecer mengering dan kembali dilindas kendaraan, material tersebut dapat berubah menjadi debu yang mengganggu warga dan pengguna jalan.

Dengan demikian, persoalan ini diharapkan tidak berhenti pada aksi bersih-bersih setelah jalan kotor. Pengembang, pengelola proyek, operator kendaraan, pemerintah desa, serta pihak terkait perlu duduk bersama memastikan aktivitas pembangunan tidak mengorbankan kenyamanan dan keselamatan masyarakat sekitar.

Karang Taruna dua desa pun menegaskan bahwa mereka akan tetap berada di lapangan sekaligus menjadi penghubung antara masyarakat dan pihak-pihak yang berkepentingan agar persoalan tersebut dapat ditangani secara nyata, bukan sekadar saling menyalahkan.


• Bodong/Fitri