Headline News

Perwira Aktif TNI AU Raih Gelar Doktor, Disertasi Aris Toteles Dorong Reformasi Kesetaraan Gender di Militer

Foto: Aris Toteles Safiuddin saat sidang gelar Doktor. (Ist)

Nuansametro.com - Bandung | Perwira aktif TNI Angkatan Udara (TNI AU), Aris Toteles Sufiuddin, resmi menyandang gelar Doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Sidang Promosi Doktor Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran (Unpad), Rabu (1/7/2026).

Sidang promosi yang digelar di Ruang Sidang Pascasarjana FISIP Unpad, Bandung, berlangsung sejak pukul 09.00 WIB dan dipimpin langsung oleh Dekan FISIP Unpad, Prof. Dr. Mohammad Benny Alexandri, dengan Ari Ganjar Herdiansah, S.Sos., M.Si., Ph.D. sebagai Sekretaris Sidang sekaligus Ketua Promotor. 

Setelah melalui pemaparan disertasi serta sesi tanya jawab bersama tim promotor, oponen ahli, dan para penguji, Aris dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar Doktor.

Yang menjadikan capaian ini istimewa bukan sekadar keberhasilan akademik seorang prajurit aktif, tetapi keberaniannya mengangkat isu yang selama ini relatif jarang dibahas di lingkungan militer, yakni kesetaraan gender dalam penempatan personel TNI AU pada misi perdamaian dunia.

Melalui disertasi berjudul "Kemauan Politik Pimpinan TNI AU untuk Membangun Kesetaraan Gender dalam Penempatan Personel pada Misi Perdamaian Dunia", Aris mengupas pentingnya komitmen pimpinan dalam membuka kesempatan yang adil bagi prajurit perempuan untuk berpartisipasi dalam operasi perdamaian internasional berdasarkan kompetensi dan profesionalisme.

Penelitian tersebut menawarkan perspektif bahwa penguatan institusi pertahanan tidak hanya ditentukan oleh modernisasi alutsista dan kemampuan tempur, tetapi juga oleh kebijakan sumber daya manusia yang inklusif, profesional, dan berkeadilan.

Dalam sambutannya usai sidang, Aris menyampaikan rasa syukur atas pencapaian yang diraihnya sekaligus menegaskan bahwa gelar doktor bukanlah tujuan akhir.

"Alhamdulillah, segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan studi doktoral ini. Terima kasih kepada keluarga, para promotor, dosen penguji, Universitas Padjadjaran, serta pimpinan TNI Angkatan Udara yang telah memberikan dukungan selama proses pendidikan," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan harus memberikan manfaat nyata bagi institusi dan negara.

"Gelar doktor ini bukan akhir perjalanan, tetapi awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Saya berharap hasil penelitian ini dapat menjadi masukan konstruktif dalam pengembangan kebijakan organisasi sehingga semakin banyak personel yang memperoleh kesempatan mengabdi dalam misi perdamaian internasional secara profesional dan berkeadilan."

Aris juga mengajak seluruh prajurit untuk terus meningkatkan kapasitas melalui pendidikan.

"Sebagai prajurit, saya meyakini bahwa ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan pengabdian. Semoga apa yang saya capai hari ini menjadi motivasi bagi seluruh prajurit untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan memberikan pengabdian terbaik kepada TNI AU, bangsa, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia."

Dinilai Berani Mengangkat Isu Strategis

Disertasi Aris mendapat apresiasi dari pengamat pertahanan Prof. Connie Rahakundini Bakrie, yang menjadi salah satu informan dalam penelitian tersebut.

Menurut Connie, penelitian ini merupakan langkah berani karena dilakukan oleh seorang prajurit aktif yang justru mengangkat isu kesetaraan gender di lingkungan militer.

"Ini sangat membanggakan. Beliau masih aktif sebagai prajurit, seorang laki-laki, tetapi justru mendorong isu gender. Penelitiannya mendalam, jujur, dan saya yakin ada risiko yang dihadapi karena beliau masih aktif," kata Connie.

Ia berharap hasil penelitian tersebut tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi mampu menjadi landasan perubahan kebijakan bahkan masuk ke dalam doktrin organisasi TNI.

"Harapan saya penelitian ini dapat menjadi bagian dari doktrin sehingga benar-benar terjadi perubahan. Indonesia membutuhkan angkatan udara dan militer yang semakin profesional, dan perubahan besar bisa dimulai dari penelitian ini."

Connie juga mendorong agar hasil disertasi tersebut disampaikan kepada Komisi I DPR RI dan Kementerian Pertahanan sebagai bahan penyusunan kebijakan pertahanan nasional yang lebih adaptif terhadap perkembangan global.

DPR Nilai Hadirkan Perspektif Baru

Apresiasi serupa datang dari Anggota Komisi IX DPR RI, Neti, yang menilai penelitian Aris menghadirkan perspektif berbeda dalam pembahasan kesetaraan gender.

Menurutnya, selama ini isu perempuan lebih banyak diperjuangkan oleh perempuan sendiri. Namun, Aris justru menunjukkan bahwa laki-laki juga dapat menjadi bagian dari perubahan melalui kajian ilmiah yang objektif.

Neti menilai keterlibatan prajurit perempuan dalam misi perdamaian dunia memiliki nilai strategis karena mampu menghadirkan pendekatan komunikasi, empati, dan persuasi yang sangat dibutuhkan dalam penyelesaian konflik.

Ia berharap hasil penelitian tersebut tidak berhenti sebagai disertasi, tetapi dapat diterjemahkan menjadi kebijakan nyata di lingkungan TNI AU maupun pemerintah.

Dari Kampus Menuju Kebijakan Nasional

Keberhasilan Aris Toteles Sufiuddin meraih gelar Doktor tidak hanya menambah daftar akademisi dari kalangan militer, tetapi juga membuka ruang diskusi baru mengenai reformasi kebijakan sumber daya manusia di tubuh TNI.

Di tengah tuntutan profesionalisme militer modern dan meningkatnya keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), penelitian ini menjadi relevan sebagai referensi dalam membangun sistem penempatan personel yang mengedepankan kompetensi, meritokrasi, dan kesempatan yang setara.

Lebih dari sekadar prestasi pribadi, disertasi Aris menjadi pesan bahwa pengabdian kepada negara dapat diwujudkan melalui dua medan sekaligus, pengabdian sebagai prajurit dan kontribusi ilmiah yang mampu mendorong lahirnya kebijakan publik yang lebih progresif bagi masa depan TNI dan Indonesia.

Naskah ini disusun dengan gaya berita yang lebih tajam, mengalir, dan bernilai jurnalistik, sekaligus tetap menjaga akurasi serta keseimbangan informasi.


• Irfan Sahab 

0 Komentar

Posting Komentar
© Copyright 2022 - Nuansa Metro