![]() |
| Foto : Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Provinsi Jawa Barat, Sukarya WK, |
Nuansametro.com - Bandung | Di tengah maraknya sorotan publik terhadap gaya hidup sebagian pejabat, sosok Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Provinsi Jawa Barat, Sukarya WK, justru tampil dengan wajah kepemimpinan yang berbeda.
Memasuki usia ke-57 tahun, ia dikenal luas sebagai pemimpin desa yang sederhana, rendah hati, dan tetap dekat dengan masyarakat.
Bagi Sukarya WK yang biasa disapa Lurah WK, jabatan bukanlah simbol kemewahan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Kesederhanaan yang selama ini melekat pada dirinya bukan sekadar citra, melainkan tercermin dalam kesehariannya.
Ia tetap mudah ditemui warga, terbuka menerima berbagai masukan, dan tak segan turun langsung ke lapangan untuk mendengar persoalan masyarakat.
"Beliau tidak pernah membeda-bedakan orang. Mau masyarakat kecil ataupun tokoh, semua dilayani dengan ramah. Meski sekarang menjadi Ketua APDESI Jawa Barat, beliau tetap seperti dulu," ujar salah seorang warga.
Perjalanan pengabdiannya pun tidak dibangun secara instan. Bertahun-tahun memimpin pemerintahan desa telah membentuk karakter kepemimpinan yang memahami secara utuh kebutuhan masyarakat di tingkat akar rumput.
Pengalaman itulah yang kini menjadi modal kuat dalam mengemban amanah sebagai Ketua APDESI Jawa Barat.
Di bawah kepemimpinannya, APDESI Jawa Barat dikenal aktif memperjuangkan berbagai kepentingan desa. Mulai dari mendorong percepatan pembangunan desa, memperjuangkan kesejahteraan kepala desa dan perangkat desa, hingga memperkuat posisi pemerintahan desa dalam mendukung pembangunan daerah maupun nasional.
Komitmennya dalam menyuarakan aspirasi pemerintah desa membuat APDESI Jawa Barat semakin solid sebagai mitra strategis pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.
Berbagai persoalan yang dihadapi desa terus diperjuangkan melalui komunikasi dan koordinasi yang intensif dengan berbagai pemangku kepentingan.
Memasuki usia ke-57 tahun, semangat pengabdian Lurah WK justru semakin kuat. Baginya, usia bukanlah batas untuk terus bekerja, melainkan pengingat bahwa semakin besar pengalaman, semakin besar pula tanggung jawab untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Di tengah era ketika kepemimpinan kerap diukur dari kemewahan dan popularitas, Lurah WK menunjukkan bahwa penghormatan masyarakat justru lahir dari keteladanan, integritas, dan kedekatan dengan rakyat.
Kesederhanaan yang ia pertahankan selama ini menjadi pesan bahwa pemimpin sejati tidak dibentuk oleh kemegahan jabatan, melainkan oleh keikhlasan dalam melayani.
Sosok Lurah WK menjadi representasi pemimpin desa yang bekerja dengan hati, mengabdi tanpa pamrih, dan terus menjaga kepercayaan masyarakat.
Genap berusia 57 tahun, perjalanan pengabdiannya menjadi inspirasi bahwa kepemimpinan yang kuat selalu berakar pada kesederhanaan, ketulusan, dan keberpihakan kepada rakyat.
• Fitri

0 Komentar