![]() |
| Foto : Hendra Supriatna |
Nuansametro.com - Karawang | Di balik toga dan argumentasi hukum yang lantang, seorang advokat sesungguhnya diuji bukan ketika menerima pujian, melainkan saat dihujani kritik, tekanan, bahkan caci maki. Filosofi itu tampaknya melekat kuat pada sosok Hendra Mandalika, Direktur LBH Arya Mandalika, yang memilih tetap berdiri di jalur advokasi meski kerap berhadapan dengan kepentingan-kepentingan besar.
Bagi Hendra, profesi advokat bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan untuk memastikan hukum tetap berpihak kepada keadilan. Jalan yang ditempuhnya pun jauh dari kata mudah. Tidak ada karpet merah, tidak pula kemewahan yang mengiringi langkah awalnya di dunia hukum.
Ia memulai perjuangannya dari perkara-perkara masyarakat kecil yang sering kali luput dari perhatian. Sengketa warga, pendampingan hukum bagi masyarakat yang kesulitan mengakses keadilan, hingga gugatan praperadilan menjadi bagian dari perjalanan panjang yang menempa karakter dan idealismenya.
Semakin dikenal, semakin besar pula tantangan yang dihadapi. Sebagai Direktur LBH Arya Mandalika, Hendra beberapa kali menjadi sorotan setelah lantang mengkritisi kebijakan publik, menyoroti temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di sejumlah organisasi perangkat daerah di Kabupaten Karawang, hingga mendesak pengusutan dugaan penyimpangan proyek infrastruktur.
Sikap kritis tersebut membuatnya kerap berada di posisi yang tidak nyaman. Dukungan datang dari banyak pihak, namun penolakan, hujatan, hingga serangan di media sosial pun tak pernah berhenti.
Namun semua itu tidak mengubah pendiriannya.
"Kalau kita memilih membela kepentingan masyarakat dan memperjuangkan kebenaran, pasti ada pihak yang merasa terganggu. Kritik, cacian, bahkan fitnah adalah risiko yang harus diterima. Yang terpenting, setiap langkah tetap berada dalam koridor hukum dan hati nurani," ujar Hendra.
Prinsip itulah yang membuatnya tetap konsisten menjalankan profesinya. Baginya, advokat bukanlah pencari sensasi atau pemburu konflik, melainkan penjaga keseimbangan agar setiap warga negara memperoleh hak yang sama di hadapan hukum.
Di tengah kerasnya dunia litigasi, Hendra justru dikenal memiliki pendekatan yang humanis. Ia tidak memandang latar belakang sosial, ekonomi, maupun politik seseorang ketika memberikan pendampingan hukum. Baginya, keadilan tidak boleh memilih siapa yang layak dibela.
Karakter tersebut juga membuatnya dekat dengan kalangan jurnalis, aktivis, hingga mahasiswa. Berbeda dengan sebagian narasumber yang memilih menjaga jarak, Hendra justru membuka ruang diskusi seluas-luasnya.
Tak jarang, obrolan santai di warung kopi berubah menjadi forum panjang membahas perkembangan hukum, kebijakan publik, hingga persoalan keadilan yang dihadapi masyarakat.
"Bang Hendra itu komunikatif. Kalau menjelaskan persoalan hukum selalu sistematis, mudah dipahami, dan tidak pernah pelit berbagi informasi. Orangnya juga rendah hati sehingga mudah diterima semua kalangan," ujar seorang jurnalis di Karawang.
Bagi Hendra, keberhasilan seorang advokat tidak diukur dari banyaknya perkara yang dimenangkan ataupun besarnya honorarium yang diterima.
Kesuksesan justru lahir ketika kehadirannya mampu memberikan rasa aman, harapan, dan kepastian hukum bagi masyarakat yang membutuhkan.
Perjalanan Hendra Mandalika menjadi potret bahwa integritas seorang advokat dibangun melalui konsistensi, bukan popularitas. Diuji oleh kritik, ditempa oleh tekanan, namun tetap teguh memegang prinsip adalah bagian dari konsekuensi profesi yang dipilihnya.
Pepatah "dihujat tak tumbang, dipuji tak terbang" bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sikap hidup yang terus ia pegang dalam setiap langkah pengabdiannya.
Dari Karawang, Hendra Mandalika menunjukkan bahwa advokat yang kuat bukan hanya mereka yang piawai beradu argumentasi di ruang sidang, tetapi juga mereka yang tetap menjaga nurani, menjunjung integritas, dan memanusiakan setiap orang yang datang mencari keadilan.
(Fit)

0 Komentar