Headline News

Ribuan Warga Padati Hajat Bumi Tanjungbaru, Iring-Iringan Kepala Kerbau Jadi Simbol Syukur dan Pelestarian Budaya

Foto : Pemerintah Desa Tanjungbaru, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, melaksanakan tradisi tahunan Hajat Bumi yang berlangsung meriah, Jumat (12/6/2026). 

Nuansametro.com - BEKASI | Semangat menjaga warisan budaya leluhur kembali ditunjukkan Pemerintah Desa Tanjungbaru, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, melalui pelaksanaan tradisi tahunan Hajat Bumi yang berlangsung meriah, Jumat (12/6/2026). 

Ribuan warga memadati ruas jalan desa untuk menyaksikan festival budaya yang ditandai dengan iring-iringan kepala kerbau, simbol rasa syukur atas limpahan hasil bumi dan harapan akan keberkahan bagi masyarakat.

Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini menjadi salah satu agenda budaya yang terus dipertahankan di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan kawasan industri di Kabupaten Bekasi.

Kegiatan tersebut terselenggara atas kolaborasi Pemerintah Desa Tanjungbaru bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), BUMDes, Karang Taruna, hingga Koperasi Desa Merah Putih. Acara juga dihadiri tokoh masyarakat, tokoh agama, serta Sekretaris Kecamatan Cikarang Timur, Aris Sadikin Asnawi, S.E., MM.

Kepala Desa Tanjungbaru, Dudu Sumbali, S.H., menegaskan bahwa Hajat Bumi bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang telah menjadi identitas masyarakat desa sejak dahulu.

"Hajat Bumi merupakan tradisi yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Ini adalah simbol adat istiadat yang diwariskan oleh para leluhur dan menjadi kewajiban kita bersama untuk terus menjaga serta melestarikannya," ujar Dudu Sumbali.

Menurutnya, iring-iringan kepala kerbau memiliki makna filosofis yang mendalam sebagai bentuk penghormatan kepada alam serta ungkapan syukur atas hasil pertanian yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Selain menjadi ritual budaya, Hajat Bumi juga menjadi momentum mempererat tali persaudaraan antarwarga. Antusiasme masyarakat terlihat sejak pagi hari ketika warga dari berbagai dusun berkumpul untuk mengikuti rangkaian kegiatan.

Salah seorang tokoh masyarakat, Haji Mansur (58), mengaku bangga tradisi tersebut masih terus dipertahankan.

"Alhamdulillah, kegiatan seperti ini membuat masyarakat semakin guyub dan kompak. Anak-anak muda juga jadi mengenal budaya yang kita miliki. Tradisi seperti ini jangan sampai hilang ditelan zaman," katanya.

Hal senada disampaikan Siti Aminah (34), warga Dusun II, yang menilai pelaksanaan festival tahun ini berlangsung lebih tertata dan meriah dibanding tahun sebelumnya.

"Iring-iringan kepala kerbau menjadi daya tarik tersendiri. Selain sebagai hiburan masyarakat, acara ini juga menjadi ajang silaturahmi warga. Semoga tahun depan semakin meriah dan membawa keberkahan bagi para petani," ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Kecamatan Cikarang Timur, Aris Sadikin Asnawi, memberikan apresiasi atas komitmen Pemerintah Desa Tanjungbaru dalam menjaga tradisi lokal.

Menurutnya, keberadaan budaya seperti Hajat Bumi memiliki peran penting dalam memperkuat identitas daerah di tengah pesatnya pembangunan dan industrialisasi Kabupaten Bekasi.

"Kearifan lokal merupakan aset budaya yang harus dijaga bersama. Tradisi seperti Hajat Bumi bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat desa, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya Kabupaten Bekasi," ujarnya.

Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama dan makan bersama sebagai simbol kebersamaan, rasa syukur, serta harapan agar Desa Tanjungbaru senantiasa diberikan keselamatan, kemakmuran, dan hasil bumi yang melimpah.

Melalui Hajat Bumi, masyarakat Tanjungbaru kembali membuktikan bahwa kemajuan zaman tidak harus menghilangkan akar budaya. Justru, tradisi menjadi pondasi penting dalam menjaga identitas dan memperkuat persatuan warga di tengah perubahan yang terus berlangsung.


• Rls 

0 Komentar

Posting Komentar
© Copyright 2022 - Nuansa Metro