![]() |
| Foto : Pasien anak berusia dua tahun bersama kelu6 saat di puskesmas Medangasem. |
Nuansametro.com - Karawang | Pelayanan di Puskesmas Medangasem, Kecamatan Jayakerta, Kabupaten Karawang, dikeluhkan seorang warga Desa Kampungsawah bernama Imam setelah diminta membayar biaya pemeriksaan laboratorium (LAB) sebesar Rp60 ribu tanpa menerima bukti pembayaran resmi.
Keluhan itu disampaikan Imam saat membawa anaknya yang masih berusia dua tahun untuk mendapatkan penanganan medis.
Menurut Imam, dirinya datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) agar anaknya segera ditangani karena kondisinya sedang sakit. Namun sesampainya di lokasi, ia justru diarahkan untuk melakukan proses administrasi terlebih dahulu.
“Awalnya saya datang ke IGD supaya anak saya cepat ditangani. Setelah itu saya disuruh daftar dulu, ambil nomor antrean, lalu balik lagi ke IGD,” ujar Imam kepada wartawan.
Tak hanya itu, Imam mengaku harus bolak-balik dari ruang pelayanan ke IGD hingga ke ruang laboratorium karena prosedur administrasi yang dinilai berbelit.
“Sebelum diperiksa di IGD saya disuruh ke LAB dulu, pas di LAB disuruh balik lagi ke pelayanan buat ambil nomor register. Jadi saya bolak-balik pelayanan, IGD, LAB,” katanya.
Dalam proses tersebut, Imam mengaku diminta membayar biaya pemeriksaan laboratorium sebesar Rp60 ribu lantaran kepesertaan BPJS dan Universal Health Coverage (UHC) miliknya masih dalam proses pengurusan.
Meski tidak mempermasalahkan nominal pembayaran tersebut, Imam mempertanyakan tidak adanya kuitansi atau bukti pembayaran resmi yang diberikan petugas.
“Nggak masalah saya bayar Rp60 ribu. Tapi waktu saya minta bukti pembayaran atau nota, tidak dikasih,” ungkapnya.
Imam mengaku sempat mempertanyakan hal itu kepada petugas pelayanan. Namun menurutnya, petugas menyebut praktik tersebut sudah biasa dilakukan dan bukan termasuk pungutan liar.
“Katanya ini sudah biasa, bukan pungli. Bahkan saya disuruh lihat tulisan yang dipampang di ruang pelayanan, kalau mau difoto silakan,” ujarnya.
Selain soal administrasi dan pembayaran, Imam juga menyoroti lambatnya penanganan terhadap anaknya yang masih balita.
“Yang bikin saya kecewa, kenapa anak saya tidak ditangani dulu. Ini kan balita,” katanya.
Ia menambahkan, setelah akhirnya mendapat penanganan di IGD, anaknya sempat dua kali dilakukan pemasangan infus namun tidak berhasil. Pihak Puskesmas kemudian menyarankan agar anaknya dirujuk ke rumah sakit.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Puskesmas Medangasem belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan pelayanan tersebut.
(Kojek)

0 Komentar