Headline News

Menjaga Bangsa Dari Api Diskriminasi

Foto : Ustadz Sunarto 


Oleh : Ustadz Sunarto 

Di tengah kehidupan bangsa yang semakin beragam dan dinamis, kita perlu berhati-hati dalam menggunakan diksi dan membangun opini di ruang publik. Salah satu kata yang sangat sensitif adalah “diskriminasi”. Kata ini bukan sekadar istilah sosial, tetapi tuduhan moral yang dapat memicu perpecahan bila digunakan tanpa kebijaksanaan.

Agama Islam secara tegas menolak segala bentuk perlakuan zalim terhadap manusia. Islam hadir sebagai rahmatan lil ‘alamin rahmat bagi seluruh alam yang menjunjung tinggi keadilan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan persaudaraan kemanusiaan.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 bahwa seluruh manusia diciptakan dari laki-laki dan perempuan, kemudian dijadikan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, bukan saling merendahkan. 

Kemuliaan seseorang di sisi Allah bukan ditentukan oleh ras, suku, warna kulit, jabatan, maupun status sosial, melainkan oleh ketakwaannya.

Sementara dalam Surah Al-Hujurat ayat 11, umat Islam diperingatkan agar tidak saling mencela, menghina, ataupun merendahkan kelompok lain. 

Ayat ini menjadi fondasi moral bahwa penghinaan dan stereotip terhadap pihak lain adalah perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Karena itu, tuduhan diskriminasi seharusnya tidak dijadikan alat untuk menyerang, menyudutkan, atau membangun kebencian terhadap kelompok tertentu. 

Apalagi jika tuduhan tersebut lahir dari prasangka, emosi politik, atau kepentingan sesaat. Bangsa ini dibangun di atas semangat musyawarah, toleransi, dan saling menghormati, bukan saling melabeli.

Islam juga memberikan garis yang sangat jelas antara wilayah akidah dan muamalah. Dalam urusan keyakinan, setiap agama memiliki prinsip yang tidak dapat dicampuradukkan. 

Namun dalam hubungan sosial, Islam memerintahkan umatnya untuk berlaku adil, santun, dan menghormati hak-hak sesama manusia tanpa diskriminasi, termasuk kepada pemeluk agama lain.

Prinsip inilah yang sejatinya menjadi fondasi kehidupan kebangsaan Indonesia. Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling menyingkirkan. Sebaliknya, perbedaan harus menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan dan kedewasaan demokrasi.

Kita semua tentu meyakini bahwa setiap agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap sesama manusia. 

Maka sangat disayangkan bila ruang publik justru dipenuhi narasi provokatif yang memperuncing perbedaan dan menebar kecurigaan antarkelompok.

Hari ini bangsa Indonesia tidak membutuhkan pertengkaran identitas. Yang dibutuhkan adalah keteduhan berpikir, kebijaksanaan berbicara, dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.

Mengkritik boleh. Menyampaikan aspirasi adalah hak setiap warga negara. Namun semua itu harus dilakukan dengan adab, data, dan niat memperbaiki keadaan, bukan untuk mempermalukan atau memecah belah.

Penggunaan istilah “diskriminasi” harus dilakukan secara hati-hati, objektif, dan proporsional. Jangan sampai kata tersebut berubah menjadi alat propaganda yang justru melahirkan diskriminasi baru terhadap kelompok lain.

Musyawarah, dialog, dan saling menghormati tetap menjadi jalan terbaik sebagaimana telah diwariskan oleh para pendiri bangsa. Sebab persatuan tidak lahir dari saling menuduh, melainkan dari kemampuan untuk saling memahami.

ÙˆَاللَّÙ‡ُ بِÙƒُÙ„ِّ Ø´َÙŠْØ¡ٍ عَÙ„ِيمٌ
Wallahu bikulli syai’in ‘alim.


0 Komentar

Posting Komentar
© Copyright 2022 - Nuansa Metro