![]() |
| Foto : Sahrul Bahtiar |
Nunasametro.com - Bekasi | Dinamika politik desa mulai terasa di Desa Srimukti menjelang pemilihan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) periode 2026–2034. Salah satu figur yang mencuri perhatian adalah Sahrul Bahtiar, calon dari wilayah Dusun 2, yang tampil membawa narasi perubahan dengan pendekatan yang lebih tegas terhadap fungsi pengawasan.
Di tengah kritik publik terhadap kinerja lembaga desa yang kerap dianggap formalitas, Sahrul justru menempatkan BPD sebagai institusi strategis.
Ia menilai, selama ini peran BPD belum dimaksimalkan sebagai pengimbang kekuasaan pemerintah desa.
“BPD bukan sekadar pelengkap administratif. Ia harus menjadi pilar pengawasan yang hidup, bekerja, dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegas Sahrul.
Menyasar Titik Lemah Tata Kelola
Dalam pemaparannya, Sahrul menggarisbawahi tiga persoalan utama yang menurutnya masih menjadi pekerjaan rumah di Desa Srimukti, lemahnya pengawasan kebijakan, terbatasnya ruang partisipasi warga, serta minimnya keterbukaan informasi publik.
Berangkat dari itu, ia menawarkan visi besar: mewujudkan tata kelola pemerintahan desa yang demokratis, transparan, dan akuntabel melalui pengawasan efektif dan penyaluran aspirasi yang tepat sasaran.
Visi tersebut bukan tanpa arah. Sahrul merumuskannya ke dalam tiga pilar kerja yang dinilai konkret:
Pengawasan Efektif
Ia berkomitmen memastikan setiap program pembangunan dan penggunaan anggaran desa berjalan sesuai aturan dan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.Jembatan Aspirasi
Sahrul ingin mengubah pola komunikasi antara warga dan pemerintah desa menjadi lebih terbuka. Forum dialog rutin dan penyerapan aspirasi akan menjadi prioritas.Digitalisasi Informasi
Transparansi, menurutnya, harus berbasis sistem. Ia mendorong akses informasi publik berbasis digital agar masyarakat bisa memantau program desa secara langsung.
Representasi Generasi Baru
Kemunculan Sahrul juga dibaca sebagai representasi generasi muda yang mulai masuk ke ruang-ruang pengambilan kebijakan desa.
Dengan gaya komunikasi yang lebih terbuka dan pendekatan partisipatif, ia mencoba menjangkau pemilih yang selama ini merasa jauh dari proses politik desa.
Namun, tantangan tidak kecil. Skeptisisme publik terhadap janji perubahan masih menjadi ujian utama. Warga kini dituntut lebih kritis dalam menilai apakah gagasan yang ditawarkan benar-benar realistis atau sekadar retorika politik.
“Saya berdiri karena dorongan masyarakat. Jika dipercaya, saya siap menjadi pengeras suara bagi aspirasi warga,” ujar Sahrul.
Momentum Penentu Arah Desa
Pemilihan BPD kali ini bukan sekadar rutinitas demokrasi desa. Bagi warga Dusun 2, ini adalah momentum strategis untuk menentukan arah kebijakan dan kualitas pengawasan pemerintahan desa hingga delapan tahun ke depan.
Dengan menghangatnya kontestasi dan munculnya figur-figur baru seperti Sahrul Bahtiar, publik kini memiliki alternatif pilihan.
Pertanyaannya, apakah semangat perubahan yang ditawarkan mampu diterjemahkan menjadi kerja nyata? Waktu dan pilihan warga yang akan menjawab.
• Nana

0 Komentar