![]() |
Oleh: Ujang Suhana, SH
(Penulis Adalah Praktisi Hukum)
Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei seharusnya tidak berhenti pada seremoni, pidato formal, atau unggahan slogan di media sosial.
Tahun 2026 ini menuntut lebih dari itu: refleksi jujur tentang arah pendidikan Indonesia apakah kita sedang membangun manusia, atau sekadar mencetak ijazah?
Gagasan besar tentang pendidikan sejati sejatinya telah lama diwariskan oleh tokoh-tokoh bangsa dan leluhur Nusantara. Prabu Siliwangi mengajarkan falsafah hidup yang membumi melalui konsep Panca Waluya.
Sementara Soekarno menegaskan bahwa bangsa besar adalah bangsa yang menghargai ilmu pengetahuan.
Kedua pemikiran ini bertemu dalam satu titik: pendidikan harus melahirkan manusia yang utuh, bukan sekadar pintar di atas kertas.
Krisis Yang Kita Abaikan
Realitas hari ini menunjukkan ironi. Di satu sisi, angka partisipasi pendidikan meningkat. Namun di sisi lain, kasus perundungan di sekolah, plagiarisme akademik, hingga korupsi yang melibatkan kaum terdidik justru terus bermunculan. Ini menandakan bahwa ada yang keliru dalam fondasi pendidikan kita.
Kita terlalu lama memuja nilai akademik, tetapi mengabaikan nilai kemanusiaan. Kita bangga dengan gelar, tetapi lupa pada karakter. Kita mengejar kecerdasan, tetapi melupakan integritas.
CAGER, BAGER, BENER, PINTER, SINGER: Formula yang Terlupakan
Falsafah Sunda yang diwariskan Prabu Siliwangi sesungguhnya menawarkan kerangka pendidikan yang relevan bahkan untuk era disrupsi hari ini.
Pertama, Cager (sehat jasmani dan rohani).
Tidak mungkin berbicara tentang pendidikan berkualitas jika generasi mudanya terjebak narkoba, judi online, dan gaya hidup tidak sehat. Kesehatan adalah fondasi, bukan pelengkap.
Kedua, Bager (berbudi pekerti luhur).
Kecerdasan tanpa akhlak adalah ancaman. Sejarah telah membuktikan bahwa kehancuran bangsa sering kali bukan karena kurangnya orang pintar, tetapi karena minimnya orang yang bermoral.
Ketiga, Bener (integritas dan kejujuran).
Pendidikan tanpa kejujuran hanyalah ilusi. Praktik menyontek, jual beli ijazah, hingga budaya “titip absen” adalah bibit dari korupsi yang lebih besar di masa depan.
Keempat, Pinter (cerdas intelektual dan sosial).
Di era globalisasi, kecerdasan tidak lagi cukup hanya di ruang kelas. Penguasaan teknologi, bahasa asing, dan kemampuan berpikir kritis menjadi keharusan. Namun, kecerdasan itu harus berpihak—untuk masyarakat, bukan hanya kepentingan pribadi.
Kelima, Singer (tanggap dan adaptif).
Perubahan zaman tidak menunggu. Generasi muda yang lamban akan tertinggal, bahkan tergilas. Adaptasi, inovasi, dan keberanian mengambil peran adalah kunci bertahan.
Jawa Barat dan Tantangan Generasi Pewaris
Bagi generasi muda Jawa Barat, tantangan ini semakin konkret. Kawasan industri berkembang pesat, tetapi apakah pemuda lokal hanya akan menjadi buruh di tanahnya sendiri? Ataukah mereka siap menjadi insinyur, manajer, bahkan pemilik industri?
Pertanyaan ini bukan retorika, melainkan peringatan.
Kita tidak kekurangan sumber daya. Yang kita kekurangan adalah kesiapan baik secara kesehatan, karakter, integritas, kecerdasan, maupun daya adaptasi.
Menuju Indonesia Emas 2045: Mimpi atau Ilusi?
Target Indonesia Emas 2045 kerap digaungkan. Namun pertanyaannya sederhana: dengan kondisi pendidikan saat ini, apakah itu realistis?
Bonus demografi bisa berubah menjadi bencana jika generasi mudanya lemah. Anggaran pendidikan sebesar apa pun akan sia-sia jika bocor oleh korupsi. Dan kemajuan teknologi tidak akan berarti jika hanya menjadikan kita pengguna, bukan pencipta.
Pendidikan adalah “jembatan emas” menuju kemerdekaan sejati sebagaimana pernah diingatkan oleh Soekarno. Namun jembatan itu kini retak oleh kemalasan, pragmatisme, dan krisis moral.
Seruan Yang Tidak Bisa Ditunda
Hari ini, pesan itu harus ditegaskan kembali:
Bangunlah generasi yang CAGER dalam raganya, BAGER dalam hatinya, BENER dalam lakunya, PINTER dalam pikirannya, dan SINGER dalam karyanya.
Tanpa itu, pendidikan hanya akan melahirkan generasi rapuh—mudah terombang-ambing, mudah tergoda, dan mudah kehilangan arah.
Namun dengan itu, Indonesia tidak hanya akan maju—tetapi akan berdiri tegak sebagai bangsa yang benar-benar merdeka.
Dirgahayu Hari Pendidikan Nasional 2026.
Bukan sekadar perayaan, tetapi momentum perlawanan terhadap kebodohan.

0 Komentar