![]() |
Nuansametro.com - Mataram | Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memastikan flyer yang beredar luas di media sosial terkait isu penculikan anak adalah hoaks dan bukan berasal dari pemerintah daerah. Masyarakat diminta tetap tenang serta tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfotik) NTB selaku Juru Bicara Pemprov NTB menegaskan, penyebaran informasi bohong seperti itu sangat berbahaya karena berpotensi memicu kepanikan hingga tindakan main hakim sendiri di tengah masyarakat.
“Jangan mudah percaya apalagi ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Isu seperti ini bisa memancing keresahan dan tindakan yang tidak kita inginkan,” tegasnya.
Ia mengingatkan, kasus serupa pernah terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Warga yang dituduh sebagai penculik hanya berdasarkan kabar bohong di media sosial sempat dikejar massa, dianiaya, bahkan ada yang nyaris kehilangan nyawa akibat amuk warga.
“Jangan sampai kejadian seperti itu terjadi di NTB. Masyarakat harus tetap tenang, bijak, dan mengedepankan tabayun atau klarifikasi sebelum mempercayai sebuah informasi,” ujarnya.
Pemprov NTB juga memastikan flyer yang beredar tersebut bukan produk resmi pemerintah. Indikasinya terlihat dari penggunaan logo Pemerintah Provinsi NTB yang tidak sesuai standar resmi.
“Saya sendiri menerima flyer itu dari seorang teman yang menanyakan kebenarannya. Setelah dicek, dipastikan itu bukan flyer resmi Pemprov NTB,” katanya.
Pemerintah daerah berharap aparat kepolisian dapat menelusuri pihak yang pertama kali membuat dan menyebarkan flyer hoaks tersebut agar tidak terus menimbulkan keresahan publik.
Di tengah maraknya penyebaran informasi melalui media sosial, masyarakat diminta lebih cermat dan kritis dalam menerima informasi.
Pemprov NTB mengajak seluruh warga untuk selalu memeriksa fakta sebelum membagikan sebuah informasi demi menjaga keamanan, ketertiban, dan suasana kondusif di daerah.
“Media sosial jangan dijadikan alat menyebar ketakutan. Gunakan secara bijak dan bertanggung jawab,” pungkasnya.
• Rls/NP

0 Komentar