![]() |
| Foto : pemasangan janur kuning dalam jumlah besar di sepanjang Jalan Tuparev dan sejumlah sudut kota. (NM/Irfan) |
Nuansametro.com - Karawang | Persiapan pelaksanaan Kirab Mahkota Binokasih di Kabupaten Karawang kian matang. Pemerintah Kabupaten Karawang terlihat total mempersiapkan agenda budaya tingkat Jawa Barat tersebut dengan memasang spanduk, baliho, umbul-umbul hingga kain putih yang membentang di sejumlah titik pusat kota.
Kirab budaya yang akan menghadirkan penampilan kesenian dari 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat itu dijadwalkan melintasi kawasan Stasiun Karawang hingga finis di Masjid Agung Syech Quro Alun-Alun Karawang.
Iring-iringan budaya Sunda dipastikan menjadi daya tarik utama dengan hadirnya pakaian adat, tabuhan kendang, alunan angklung, serta beragam pertunjukan tradisional lainnya.
Namun di tengah semarak persiapan tersebut, pemasangan janur kuning dalam jumlah besar di sepanjang Jalan Tuparev dan sejumlah sudut kota justru memunculkan polemik dan tanda tanya publik.
Sorotan itu datang dari praktisi hukum sekaligus aktivis Karawang, H. Elyasa Budianto, SH., MH. Ia mempertanyakan relevansi penggunaan janur kuning dalam kegiatan kirab budaya yang notabene merupakan agenda pelestarian tradisi Sunda.
“Janur kelapa kuning identik dengan prosesi pernikahan. Masyarakat jadi bertanya-tanya, kenapa kirab budaya dipadukan dengan banyaknya janur kuning. Jangan sampai muncul asumsi liar bahwa kirab budaya ini sekaligus perayaan tertentu yang tidak ada kaitannya dengan substansi budaya itu sendiri,” ujar Elyasa kepada wartawan, Sabtu (9/5/2026).
Menurut Elyasa, panitia pelaksana maupun Pemkab Karawang perlu memberikan penjelasan terbuka kepada masyarakat agar tidak menimbulkan multitafsir di tengah antusiasme warga menyambut Kirab Mahkota Binokasih.
“Ini acara budaya besar yang membawa nama Jawa Barat. Maka konsep dekorasi maupun simbol-simbol yang digunakan harus dijelaskan secara transparan supaya tidak memunculkan spekulasi publik,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar agenda budaya tidak kehilangan nilai filosofisnya akibat ornamen-ornamen yang dianggap tidak relevan dengan tradisi kirab.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak panitia maupun Pemerintah Kabupaten Karawang terkait filosofi pemasangan janur kuning di sepanjang jalur kirab.
Di sisi lain, masyarakat Karawang tetap menyambut antusias pelaksanaan Kirab Mahkota Binokasih yang dinilai menjadi momentum penting pelestarian budaya Sunda serta ajang mempererat identitas kultural masyarakat Jawa Barat.
• Irfan Sahab

0 Komentar