![]() |
| Foto : Trafo listrik berjalan yang berbulan-bulan digunakan pihak PLN untuk mengganti sementara trafo rusak yang belum tergantikan. |
Nuansametro.com - Karawang | Warga Blok Q Perumahan De Keraton, Desa Pancawati, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, melayangkan protes keras terhadap lambannya penanganan penggantian trafo listrik yang rusak dan terbakar.
Hingga berbulan-bulan pascakejadian, trafo pengganti tak kunjung tersedia, sementara solusi sementara justru menimbulkan persoalan baru di lingkungan warga.
Sejak trafo utama mengalami kerusakan, pasokan listrik dialihkan menggunakan trafo berukuran besar yang ditempatkan di pinggir jalan.
Alih-alih menjadi solusi ideal, keberadaan trafo tersebut justru mempersempit akses jalan warga dan merusak estetika lingkungan.
Seorang warga berinisial EN mengungkapkan kekecewaannya terhadap kinerja PLN Karawang yang dinilai lamban dan tidak memberikan kepastian.
“Sudah berbulan-bulan trafo rusak itu belum juga diganti. Sampai sekarang tidak jelas kapan penggantiannya,” ujar EN.
Menurutnya, kondisi ini bukan sekadar soal keterlambatan teknis, tetapi sudah mengganggu aktivitas sehari-hari warga. Jalan lingkungan yang menyempit akibat penempatan trafo sementara berpotensi menimbulkan risiko keselamatan, terutama bagi kendaraan yang melintas.
EN juga menyoroti ketimpangan antara kewajiban pelanggan dan kualitas pelayanan yang diberikan.
“PLN selalu menuntut masyarakat untuk tepat waktu membayar listrik. Tapi di sisi lain, pelayanan terhadap masyarakat justru terkesan lambat. Harusnya seimbang,” tegasnya.
Sementara itu, Hamdani Sinaga dari bagian Teknik ULP Kosambi membenarkan bahwa trafo pengganti memang belum tersedia.
Ia menyebut pihaknya telah mengajukan permintaan ke kantor pusat, namun hingga kini belum ada realisasi.
“Trafo pengganti sudah kami pesan ke kantor PLN pusat Karawang, tapi sampai sekarang belum tersedia,” jelas Hamdani, Jum'at (10/4).
Ketika ditanya terkait kepastian waktu penggantian, pihak PLN belum dapat memberikan jawaban yang jelas. Kondisi ini semakin memperkuat kesan minimnya transparansi dalam penanganan infrastruktur vital yang berdampak langsung pada masyarakat.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai manajemen distribusi peralatan dan respons darurat dari pihak PLN. Mengingat listrik merupakan kebutuhan dasar masyarakat, keterlambatan berbulan-bulan tanpa kepastian solusi permanen menjadi indikator lemahnya perencanaan dan koordinasi internal.
Warga berharap ada langkah konkret dan percepatan dari pihak PLN, bukan sekadar janji tanpa kepastian. Jika tidak segera ditangani, bukan hanya kepercayaan publik yang tergerus, tetapi juga potensi risiko keselamatan di lingkungan permukiman.
Desakan warga kini jelas, segera ganti trafo, kembalikan akses jalan, dan perbaiki kualitas pelayanan.
• Red

0 Komentar