![]() |
| Foto : Aksi demo mahasiswa di depan Universitas Buana Perjuangan Karawang |
Nuansametro.com - Karawang | Pelantikan rektor baru di Universitas Buana Perjuangan Karawang yang seharusnya menjadi simbol awal kepemimpinan baru justru diwarnai gelombang protes mahasiswa.
Di luar pagar kampus, suara kritik menggema, menandai adanya persoalan serius yang tak bisa lagi disapu di balik seremoni.
Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa, menyoroti dugaan intimidasi yang dilakukan oknum dosen terhadap organisasi mahasiswa (ormawa). Mereka menilai, kampus mulai kehilangan jati dirinya sebagai ruang bebas untuk berpikir dan berdiskusi.
Koordinator aksi, Kelvin, menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk kemunduran dalam kehidupan akademik. Ia menegaskan, kampus semestinya menjadi pusat lahirnya gagasan kritis, bukan ruang yang membatasi kebebasan intelektual.
“Kampus adalah laboratorium intelektual. Jika diskusi dibatasi dan gerakan mahasiswa ditekan, maka yang mati bukan hanya kebebasan, tapi juga nalar kritis itu sendiri,” ujarnya.
Mahasiswa mengaku kerap mendapat tekanan saat menggelar diskusi. Dengan dalih menjaga ketertiban, pihak kampus disebut memanggil mereka, namun berujung pada intimidasi hingga ancaman pelaporan ke ranah hukum.
Situasi ini, menurut mereka, menciptakan ketakutan sistematis yang membungkam aktivitas organisasi.
Tak hanya itu, mahasiswa juga menyoroti minimnya ruang dialog dengan birokrasi kampus. Aspirasi yang disampaikan, baik secara formal maupun informal, dinilai tidak mendapat respons terbuka. Kondisi ini memperlebar jurang antara mahasiswa dan pengelola kampus.
Aksi yang digelar bertepatan dengan pelantikan rektor baru ini bukan tanpa alasan. Mahasiswa ingin menjadikan momentum tersebut sebagai titik tekan agar kepemimpinan baru berani melakukan pembenahan menyeluruh mulai dari kebijakan terhadap ormawa hingga jaminan kebebasan akademik.
“Kami tidak menolak aturan. Kami menolak pembungkaman,” tegas Kelvin.
Sementara itu, Rektor baru UBP Karawang, Budi Rusmayadi, menyatakan belum sempat menemui massa aksi karena padatnya agenda pelantikan.
Ia memastikan akan menjadwalkan dialog dengan perwakilan mahasiswa dalam waktu dekat.
Namun, pernyataan tersebut belum cukup meredakan kegelisahan. Di mata mahasiswa, persoalan yang terjadi bukan sekadar miskomunikasi, melainkan indikasi adanya pola pembatasan yang terstruktur.
Peristiwa ini menjadi ujian awal bagi kepemimpinan baru di Universitas Buana Perjuangan Karawang. Lebih dari sekadar menjaga stabilitas internal, rektor dituntut mampu mengembalikan kepercayaan mahasiswa dan memastikan kampus tetap menjadi ruang aman bagi kebebasan berpikir.
Sebab, ketika kritik dianggap ancaman, kampus tak lagi menjadi tempat mencerdaskan kehidupan bangsa melainkan sekadar institusi yang kehilangan rohnya.
• Irfan Sahab

0 Komentar