![]() |
| Foto : Abdul Gofar |
Nuansametro.com - Bekasi | Kontestasi pemilihan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di Desa Waringinjaya, Kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, mulai menghangat. Salah satu figur yang mencuri perhatian adalah Abdul Gopar, yang akrab disapa Opan.
Ia resmi maju sebagai calon anggota BPD mewakili Dusun III Kampung Pacing dengan membawa pesan yang tegas: kerja harus tuntas, bukan sekadar janji.
Mengusung slogan “Pantang pulang sebelum terang”, Opan menegaskan komitmennya untuk bekerja tanpa setengah hati.
Bagi dia, jabatan di BPD bukan ruang simbolik, melainkan posisi strategis yang menuntut keberanian, ketekunan, dan keberpihakan nyata kepada masyarakat.
“BPD itu bukan pelengkap administrasi desa. Ia harus hidup, peka, dan berani menyuarakan kepentingan warga,” ujar Opan saat ditemui di Waringinjaya.
Berbeda dari pendekatan yang kerap berfokus pada pembangunan fisik, Opan justru menyoroti aspek yang sering terpinggirkan, kualitas sumber daya manusia.
Dalam visinya, kemajuan desa tidak akan berkelanjutan tanpa masyarakat yang cerdas, terampil, dan memiliki kepedulian sosial tinggi.
Ia menilai, generasi muda harus diberi ruang lebih besar untuk berkembang dan terlibat aktif dalam pembangunan desa.
“Kalau pemudanya kuat, desa pasti ikut kuat. Kita butuh anak-anak muda yang bukan hanya pintar, tapi juga punya empati,” tegasnya.
Dukungan terhadap Opan pun tidak datang tanpa alasan. Ia dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan di wilayah Kedungwaringin.
Rekam jejak tersebut menjadi modal sosial yang kini mendorong kepercayaan warga, terutama dari kalangan pemuda yang menginginkan perubahan nyata, bukan sekadar retorika.
Namun demikian, tantangan ke depan tidak ringan. Kepercayaan publik terhadap lembaga desa, termasuk BPD, kerap diuji oleh persoalan transparansi dan efektivitas kerja.
Di sinilah komitmen Opan akan diuji: mampukah ia menjaga idealisme saat berhadapan dengan realitas birokrasi?
Pemilihan anggota BPD menjadi momentum penting bagi warga untuk menentukan arah representasi mereka.
Figur seperti Opan hadir dengan energi baru, tetapi publik tentu menuntut lebih dari sekadar semangat yakni bukti kerja dan keberanian mengawal aspirasi hingga tuntas.
Jika terpilih, Opan berjanji tidak hanya menjadi penampung suara, tetapi juga penggerak perubahan. Sebab bagi dirinya, terang yang dimaksud dalam slogannya bukan sekadar harapan melainkan hasil nyata yang dirasakan masyarakat.
(NANA)

0 Komentar