![]() |
| Foto : Peringatan Hari Air Sedunia 2026 di kawasan Gunung Mas, Kabupaten Bogor, tidak sekadar seremoni tahunan. (Ist) |
Nuansametro.com - Bogor | Peringatan Hari Air Sedunia 2026 di kawasan Gunung Mas, Kabupaten Bogor, tidak sekadar seremoni tahunan. Ia menjelma menjadi panggung konsolidasi kekuatan antara negara dan rakyat dalam menghadapi ancaman nyata krisis air dan kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang kian mengkhawatirkan.
Diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, kegiatan ini mempertemukan beragam aktor: pemerintah, akademisi, komunitas lingkungan, hingga organisasi masyarakat sipil.
Semua berkumpul dengan satu tujuan menegaskan bahwa air bukan sekadar sumber daya, melainkan fondasi keberlangsungan hidup.
Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, dalam sambutannya menyoroti pentingnya peran komunitas akar rumput dalam menjaga ekosistem air.
Ia secara khusus memberikan apresiasi kepada Fordas Cilamaya Berbunga yang dinilai konsisten merawat Sungai Cilamaya dan wilayah sekitarnya.
“Ketahanan lingkungan tidak bisa hanya bertumpu pada kebijakan. Ia harus hidup di tengah masyarakat. Komunitas seperti Fordas adalah bukti bahwa perubahan itu nyata,” tegas Diaz.
Apresiasi itu tidak berhenti pada kata-kata. Pemerintah menyerahkan bantuan konkret berupa satu unit perahu karet lengkap dengan perlengkapan operasional.
Bantuan ini menjadi simbol sekaligus instrumen penting: memperkuat kapasitas patroli sungai, respons darurat, hingga edukasi lapangan yang selama ini dilakukan secara swadaya oleh komunitas.
Di tengah meningkatnya tekanan terhadap DAS akibat alih fungsi lahan, pencemaran, dan perubahan iklim, langkah ini dinilai sebagai bentuk keberpihakan negara terhadap gerakan lingkungan berbasis masyarakat.
Peringatan tahun ini juga diisi dengan aksi nyata—penanaman pohon di kawasan tangkapan air, edukasi publik, serta dialog terbuka tentang pengelolaan sumber daya air berkelanjutan.
Tidak sekadar kampanye, melainkan upaya membangun kesadaran kolektif yang sering kali absen dalam praktik sehari-hari.
Sementara itu, Ketua Presidium Fordas Cilamaya Berbunga, Muslim Hafidz, menyambut baik dukungan pemerintah. Ia menegaskan bahwa komunitas akan terus mengambil peran strategis dalam menjaga sungai sebagai warisan bagi generasi mendatang.
“Ini bukan hanya soal hari ini. Ini tentang masa depan. Sungai yang kita jaga sekarang adalah kehidupan anak cucu kita nanti,” ujarnya.
Momentum Hari Air Sedunia 2026 di Bogor menyampaikan pesan yang jelas: menjaga air bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Dan di tengah tantangan yang kian kompleks, kolaborasi antara negara dan masyarakat menjadi satu-satunya jalan yang masuk akal.
Jika tidak sekarang, kapan lagi? Jika bukan bersama, siapa lagi?

0 Komentar