![]() |
| Foto : Ketua Dewan Pembina Media Independen Online (MIO) Indonesia, Taufiq Rahman. |
Nuansametro.com - Jakarta | Ketua Dewan Pembina Media Independen Online (MIO) Indonesia, Taufiq Rahman, menilai langkah tegas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui operasi tangkap tangan (OTT) patut diapresiasi, namun sekaligus menjadi cermin kegagalan sistemik dalam mencegah korupsi.
Pernyataan itu disampaikan Taufiq menanggapi OTT terbaru yang menjerat Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo. Menurutnya, keberhasilan KPK mengungkap kasus tersebut menunjukkan bahwa lembaga antirasuah masih memiliki daya gigit dalam menjaga integritas penyelenggaraan negara.
“Ini tentu patut diapresiasi. KPK masih menunjukkan taringnya. Tapi di sisi lain, ini juga ironi korupsi terus berulang, bahkan dilakukan oleh pejabat publik di berbagai level,” ujar Taufiq, Sabtu (11/4/2026), di sela acara Halal Bihalal GPIB di Jakarta Pusat.
Sebagai wartawan senior yang terlibat dalam dinamika organisasi pers pascareformasi, Taufiq menegaskan bahwa kasus di Tulungagung bukanlah peristiwa tunggal.
Dugaan keterlibatan banyak pihak lain yang kini tengah didalami KPK justru mempertegas bahwa korupsi telah mengakar dalam sistem pemerintahan.
Ia juga menyoroti fenomena maraknya praktik korupsi di tengah berbagai program pembinaan integritas yang telah dijalankan pemerintah, termasuk retret kabinet di Akademi Militer Magelang yang digagas Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Taufiq, retret tersebut sejatinya membawa pesan kuat tentang disiplin, loyalitas, dan soliditas aparatur negara.
Namun, ia menilai pendekatan simbolik semacam itu belum mampu menyentuh akar persoalan.
“Retret menghadirkan harapan adanya satu komando yang solid dan berorientasi hasil. Tapi realitasnya, integritas tidak cukup dibangun dari pembekalan semata,” tegasnya.
Dengan analogi tajam, Taufiq menggambarkan kondisi tersebut seperti pelatihan berhenti merokok yang tidak didukung lingkungan.
“Retret itu seperti pelatihan anti-merokok. Tapi kalau lingkungannya masih penuh ‘rokok’ dan tekanan sosialnya kuat, orang tetap akan kembali merokok,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa korupsi tidak semata-mata lahir dari kelemahan moral individu, melainkan juga akibat tekanan dan celah dalam sistem yang memungkinkan praktik menyimpang terus terjadi.
Karena itu, Taufiq mendorong pembenahan menyeluruh mulai dari penguatan sistem pengawasan, peningkatan transparansi, hingga perbaikan mekanisme akuntabilitas di seluruh lini pemerintahan.
Ia berharap keberhasilan OTT KPK tidak hanya menjadi headline sesaat, tetapi momentum untuk mempercepat reformasi birokrasi yang substantif.
“Pencegahan korupsi tidak boleh berhenti pada seremoni atau pelatihan. Harus menyentuh akar persoalan sistem yang bersih, transparan, dan minim celah,” pungkasnya.
• ZuL

0 Komentar