![]() |
| Foto: Suasana khidmat menyelimuti kegiatan halal bihalal yang digelar Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Karawang di Gedung Dakwah NU, Selasa (21/4/2026). |
Nuansameteo.com - Karawang | Suasana khidmat menyelimuti kegiatan halal bihalal yang digelar Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Karawang di Gedung Dakwah NU, Selasa (21/4/2026). Acara ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi pasca-Idulfitri, tetapi juga ruang konsolidasi kebangsaan di tengah dinamika sosial dan politik nasional.
Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Ketua Umum PBNU, KH Zulfa Mustofa, bersama sejumlah tokoh lintas elemen mulai dari pimpinan organisasi masyarakat Islam, tokoh agama, perwakilan Majelis Ulama Indonesia, aparat TNI, kejaksaan, hingga unsur partai politik dan jajaran pengurus NU dari berbagai tingkatan.
Ketua PCNU Karawang, Deden Permana, menyampaikan apresiasi atas kehadiran KH Zulfa Mustofa yang dinilainya membawa energi moral bagi warga Nahdiyin di daerah.
“Kehadiran beliau di tengah kesibukan nasional menjadi kehormatan sekaligus penyemangat bagi kami,” ujar Deden.
Dalam tausiyahnya, KH Zulfa Mustofa tidak hanya berbicara soal pentingnya menjaga ukhuwah, tetapi juga mengaitkan Karawang dengan jejak sejarah ulama besar Nusantara, Syech Nawawi al-Bantani.
Ia menyebut kunjungannya sebagai bentuk napak tilas terhadap perjalanan intelektual leluhurnya itu.
“Syech Nawawi pada usia 15 tahun pernah berguru kepada ulama Karawang bernama Yusuf. Ini menunjukkan bahwa Karawang punya akar keilmuan Islam yang kuat,” ungkapnya.
Lebih tajam lagi, KH Zulfa menegaskan peran strategis NU dalam menjaga stabilitas bangsa. Ia mengingatkan bahwa keberadaan Islam moderat menjadi benteng utama keutuhan Indonesia.
“Kalau tidak ada Islam moderat seperti NU, bukan tidak mungkin Indonesia sudah terpecah. Sejarah mencatat pernah ada upaya mengganti dasar negara,” tegasnya.
Namun, ia juga mengingatkan agar loyalitas terhadap negara tidak berarti kehilangan daya kritis. Warga NU, menurutnya, harus mampu mendukung kebijakan pemerintah yang berpihak pada rakyat, sekaligus berani mengoreksi ketika kebijakan melenceng.
“Dukung yang baik, kritisi yang tidak tepat. Itu bentuk tanggung jawab kita sebagai warga negara,” tambahnya.
Pernyataan ini sekaligus menegaskan posisi NU sebagai kekuatan sosial-keagamaan yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga aktif dalam ruang kebangsaan.
Di tengah dinamika internal organisasi, nama KH Zulfa Mustofa juga mulai diperbincangkan sebagai salah satu kandidat kuat Ketua Umum PBNU pada muktamar mendatang sebuah sinyal bahwa perannya di tingkat nasional kian diperhitungkan.
Acara halal bihalal ini pun tidak sekadar berakhir sebagai seremoni, melainkan menjadi pengingat bahwa menjaga NKRI bukan hanya tugas negara, tetapi juga tanggung jawab kolektif umat.
• NP

0 Komentar