![]() |
| Foto ; Langkah konkret ditunjukkan oleh PT Jawa Satu Power (JSP) melalui peresmian hasil renovasi Puskesmas Pembantu (Pustu) di Desa Cikalong. |
Nuansametro.com - Karawang | Akses layanan kesehatan yang layak masih menjadi tantangan di banyak wilayah. Di tengah kondisi itu, langkah konkret ditunjukkan oleh PT Jawa Satu Power (JSP) melalui peresmian hasil renovasi Puskesmas Pembantu (Pustu) di Desa Cikalong.
Tak sekadar memperbaiki bangunan, fasilitas ini kini mengusung konsep Integrasi Layanan Primer (ILP) sebuah pendekatan pelayanan kesehatan yang lebih menyeluruh dan berorientasi pada siklus hidup.
Renovasi ini menjadi bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) JSP di sektor kesehatan, yang menargetkan peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.
Hasilnya terlihat nyata, gedung Pustu yang sebelumnya terbatas kini berubah menjadi fasilitas yang lebih bersih, nyaman, dan representatif.
Manager CSR JSP, Maryono, menegaskan bahwa intervensi ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi investasi jangka panjang pada kualitas pelayanan.
“Kami ingin memastikan masyarakat tidak hanya mendapatkan fasilitas yang layak, tetapi juga pelayanan kesehatan yang berkualitas. Lingkungan yang nyaman akan berdampak langsung pada semangat tenaga medis dan kepercayaan masyarakat untuk berobat,” ujarnya.
Langkah JSP ini mendapat respons positif dari pemerintah daerah. Perwakilan Dinas Kesehatan dan Bapperinda Kabupaten Karawang menilai kolaborasi dengan sektor swasta seperti ini menjadi faktor penting dalam mempercepat pemerataan infrastruktur kesehatan.
Camat Cilamaya Wetan, Ade Setiawan, bahkan menyebut kehadiran Pustu ILP Cikalong sebagai aset strategis bagi wilayahnya.
“Ini bukan hanya bangunan baru, tetapi harapan baru bagi masyarakat. Dengan fasilitas yang lebih baik, kami optimistis derajat kesehatan warga akan meningkat signifikan,” katanya.
Yang membuat fasilitas ini menonjol adalah penerapan konsep ILP. Kepala Puskesmas Cilamaya Wetan menjelaskan bahwa layanan kini dirancang berbasis siklus hidup mulai dari ibu hamil, anak-anak, remaja, hingga lansia.
Pendekatan ini memungkinkan intervensi kesehatan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan, bukan sekadar pengobatan sesaat.
Dukungan terhadap fasilitas ini juga datang dari para pemimpin desa di sekitar, termasuk dari Desa Tegalsari, Desa Tegalwaru, dan Desa Cikarang.
Kehadiran mereka menegaskan bahwa Pustu ini akan menjadi pusat layanan kesehatan utama bagi setidaknya empat desa di kawasan tersebut.
Namun, tantangan berikutnya tak kalah penting: keberlanjutan. Pemerintah daerah dan JSP sama-sama menekankan bahwa fasilitas ini harus dijaga bersama oleh masyarakat agar manfaatnya tidak berhenti pada seremoni peresmian.
Dengan dioperasikannya Pustu ILP Cikalong, satu hal menjadi jelas ketika kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah berjalan efektif, dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat.
Pertanyaannya kini, apakah model seperti ini akan direplikasi di wilayah lain yang masih kekurangan layanan kesehatan memadai?
• NP

0 Komentar