![]() |
| Foto : Yayasan Bina Insan Jiwa terus mempertegas perannya sebagai garda terdepan dalam penanganan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan pelayanan sosial terpadu di Kabupaten Tasikmalaya. |
Nuansametro.com - Tasikmalaya | Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan mental di masyarakat, Yayasan Bina Insan Jiwa terus mempertegas perannya sebagai garda terdepan dalam penanganan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan pelayanan sosial terpadu di Kabupaten Tasikmalaya.
Berlokasi di Jalan Raya Kamulyan, Kecamatan Manonjaya, yayasan ini menghadirkan berbagai layanan melalui Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Disabilitas Mental Bina Insan Jiwa.
Fokus utamanya tidak hanya pada rehabilitasi, tetapi juga pendampingan jangka panjang bagi kelompok rentan.
Ketua Yayasan, Dera Renda, S.Kep., menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen menghadirkan layanan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
“Kami tidak hanya memberikan rehabilitasi kesehatan mental, tetapi juga pendampingan lansia serta dukungan sosial bagi mereka yang membutuhkan perhatian khusus,” ujarnya.
Lebih dari itu, yayasan ini juga mengoperasikan layanan ambulans darurat, evakuasi medis dan sosial, serta kegiatan kemanusiaan yang responsif terhadap kondisi darurat di lapangan.
Langkah ini dinilai penting untuk menjawab keterbatasan akses layanan kesehatan mental di tingkat akar rumput.
Dalam operasionalnya, Yayasan Bina Insan Jiwa diperkuat oleh tim multidisipliner. Dimas Agung N., SH menangani divisi hukum, sementara operasional LKS dipimpin oleh Elfan Ferdian dengan dukungan Wakil Ketua Fera Fadilah.
Sinergi ini menjadi fondasi dalam memastikan layanan berjalan profesional dan berkelanjutan.
Ketua LKS, Elfan Ferdian, menyebut bahwa pihaknya membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya.
“Kami ingin memperluas jangkauan layanan agar bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya mereka yang selama ini sulit mengakses layanan kesehatan mental,” katanya.
Kehadiran Yayasan Bina Insan Jiwa menjadi bukti bahwa pendekatan humanis dan kolaboratif sangat dibutuhkan dalam penanganan isu kesehatan mental. Di tengah stigma yang masih kuat, upaya seperti ini menjadi harapan baru bagi masyarakat untuk mendapatkan layanan yang cepat, tepat, dan bermartabat.
• David Hardson

0 Komentar