![]() |
| Foto : Mariam saat menghadang mobil KDM |
Nuansametro.com - Bekasi | Udara sejuk usai Safari Ramadhan mendadak berubah tegang ketika seorang warga nekat menghadang mobil rombongan Dedi Mulyadi di Lapangan Den Sakti, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Sabtu (21/2/2026) malam.
Di tengah suasana yang sebelumnya hangat oleh doa dan silaturahmi, seorang perempuan paruh baya bernama Mariam berdiri tepat di depan kendaraan dinas yang hendak meninggalkan lokasi.
Dengan tubuh sedikit gemetar dan mata berkaca-kaca, ia menyuarakan satu kalimat yang berulang kali ia tahan selama bertahun-tahun.
“Pak Gubernur tolong saya… uang saya mandek di Kecamatan Cikarang Barat sudah lama,” ucapnya lirih namun tegas, suaranya bergetar menahan tangis.
Aksi itu terekam kamera warga dan awak media yang masih berada di lokasi. Tidak ada tindakan agresif dari Mariam. Ia hanya berdiri, nyaris menyentuh pelat nomor kendaraan, seolah menggantungkan harapan terakhir pada sosok orang nomor satu di Jawa Barat.
Tiga Tahun Tanpa Kepastian
Di hadapan Gubernur, Mariam mengaku telah berulang kali berupaya mencari kejelasan terkait persoalan pengadaan yang menjadi tanggung jawab Kecamatan Cikarang Barat.
Namun hingga lebih dari tiga tahun, dana yang menurutnya menjadi haknya tak kunjung cair.
“Sudah lama, Pak. Saya sudah ke sana-sini. Uang saya mandek,” ujarnya dengan nada terhimpit.
Keluhan tersebut seketika mengubah dinamika pengamanan. Petugas yang semula bersiaga membuka jalur justru memilih diam, memberi ruang bagi dialog antara warga dan pemimpinnya.
Respons Cepat Gubernur
Tanpa menunjukkan gestur terganggu, Dedi Mulyadi yang akrab disapa Kang Dedi turun dan mendengarkan penjelasan Mariam secara langsung. Dengan sikap tenang dan bahasa tubuh terbuka, ia meminta Mariam menjabarkan duduk persoalan secara rinci.
Beberapa menit kemudian, ia memerintahkan ajudannya untuk segera menindaklanjuti laporan tersebut.
Bahkan, ia memastikan nomor kontak resmi diberikan kepada Mariam agar proses penanganan bisa dipantau.
“Saya dan ajudan akan menanganinya,” ujarnya singkat namun tegas.
Suasana yang sempat menegang perlahan mencair. Warga yang menyaksikan momen itu tampak mengangguk-angguk, sebagian merekam, sebagian lainnya berbisik mengapresiasi respons cepat tersebut.
Potret Harapan di Tengah Birokrasi
Peristiwa ini bukan sekadar insiden spontan. Ia menjadi cermin bahwa masih ada persoalan administratif di level bawah yang berlarut-larut tanpa kepastian.
Tiga tahun penantian bukan waktu yang singkat bagi warga kecil yang menggantungkan hidup pada hak yang belum diterima.
Di sisi lain, kejadian ini juga memperlihatkan ekspektasi besar masyarakat terhadap pemimpin daerah. Ketika jalur birokrasi terasa buntu, kepala daerah menjadi tempat terakhir untuk mengadu.
Aksi Mariam malam itu mungkin singkat, namun pesannya tajam: warga membutuhkan kepastian, bukan janji yang berulang. Kini publik menanti, apakah instruksi cepat di lapangan benar-benar berujung pada solusi konkret.
Karena pada akhirnya, keberanian seorang warga menghadang mobil gubernur bukanlah sekadar drama sesaat, melainkan alarm keras tentang persoalan yang tak kunjung selesai.
• Irfan Sahab

0 Komentar