![]() |
| Foto : Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang digelar Pemuda Pasirela bersama Ibu Majelis Ta’lim di Kecamatan Purwasari, Karawang. |
Nuansametro.com - Karawang | Semangat kebersamaan dan kekhusyukan mewarnai peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang digelar Pemuda Pasirela bersama Ibu Majelis Ta’lim di Kecamatan Purwasari, Karawang.
Kegiatan religius yang dirangkaikan dengan penyambutan bulan suci Ramadhan ini dihadiri ratusan jamaah serta Camat Purwasari, H. Nendi Sopandi, S.Kom., M.M.
Sejak awal acara, ibu-ibu dan bapak-bapak memadati lokasi kegiatan. Lantunan sholawat yang menggema menghadirkan suasana syahdu, menegaskan kecintaan jamaah kepada Rasulullah SAW sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.
Puncak acara diisi tausiah oleh Ustaz Dede Rukmana, SKep., Ners., SH., MH., yang mengupas makna mendalam peristiwa agung Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW perjalanan spiritual dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat lima waktu.
Dengan gaya penyampaian yang penuh penghayatan, ia mengajak jamaah merefleksikan kembali kualitas ibadah, khususnya shalat sebagai tiang agama.
Dalam ceramahnya, Dede membedah dua golongan manusia dalam menghadapi ujian kehidupan: Ahlul Afiyah dan Ahlul Musibah. Ahlul Afiyah adalah mereka yang jarang diuji, sementara Ahlul Musibah adalah hamba yang hidupnya kerap dipenuhi cobaan.
Namun, ia mengingatkan bahwa kelapangan hidup bukan selalu tanda cinta Allah. Dede menyoroti konsep istidraj kelimpahan nikmat duniawi seperti harta, jabatan, dan kesehatan yang diberikan kepada orang yang terus bermaksiat tanpa disertai kesadaran untuk bertobat.
“Ciri-ciri orang yang terkena istidraj adalah hidup bergelimang kemewahan, jarang beribadah, jarang tertimpa musibah meski berbuat dosa, dan tidak ada keinginan untuk bertobat. Ini bukan tanda kasih sayang, melainkan penundaan azab yang membuat seseorang semakin lalai dan sombong,” tegasnya.
Sebaliknya, golongan ash-shabirin adalah mereka yang teguh dan sabar dalam menghadapi ujian. Keteguhan hati, ketaatan dalam kondisi sulit, serta kesanggupan menahan diri menjadi ciri utama hamba yang dicintai Allah.
Dede juga mengutip hadis riwayat Abu Daud dan Tirmidzi tentang empat golongan manusia yang dirindukan surga: pembaca Al-Qur’an (Taali lil Qur’an), penjaga lisan (Hafizhul Lisan), pemberi makan orang lapar (Muth’imul Ji’an), dan orang yang berpuasa di bulan Ramadhan (Shoimin fi Syahri Ramadhan).
Menurutnya, keempat golongan tersebut mencerminkan keseimbangan antara ibadah personal dan kepedulian sosial.
“Pembaca Al-Qur’an adalah mereka yang bukan hanya membaca, tetapi memahami dan mengamalkan. Penjaga lisan mampu menahan diri dari gibah dan fitnah. Pemberi makan menunjukkan empati sosial. Dan orang yang berpuasa dengan iman dan ikhlas akan meraih derajat mulia di sisi Allah,” paparnya.
Ketua panitia, Alvin Maulana, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran acara dan tingginya antusiasme masyarakat. Ia berharap momentum Isra Mi’raj ini menjadi penguat komitmen spiritual warga Purwasari menjelang Ramadhan.
“Semoga kegiatan ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi titik balik untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mempererat silaturahmi antarwarga,” ujarnya.
Acara ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan dan keselamatan dalam menyambut Ramadhan. Suasana haru dan kehangatan yang terasa hingga akhir kegiatan menjadi bukti bahwa peringatan Isra Mi’raj bukan hanya mengenang perjalanan Nabi, tetapi juga menguatkan perjalanan iman umatnya.
• dong

0 Komentar