![]() |
| Foto: Parade Persatuan Ormas Islam dan Aktivis Islam yang digelar pada 2018 di Karawang. (Ist) |
Nuansametro.com - Karawang | Parade Persatuan Ormas Islam dan Aktivis Islam yang digelar pada 2018 di Karawang bukan sekadar pawai seremonial menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Lebih dari itu, aksi tersebut menjadi instrumen tekanan psikologis dan pesan politik-moral yang tegas kepada Pemerintah Kabupaten Karawang agar segera mengeluarkan kebijakan pembatasan bahkan pelarangan total minuman beralkohol (miras), narkoba, serta menutup Tempat Hiburan Malam (THM).
Ribuan massa dari berbagai elemen umat Islam turun ke jalan. Mereka tidak hanya membawa obor dan spanduk, tetapi juga satu suara dan satu tekad, Karawang harus diselamatkan dari kerusakan moral yang dilegalkan oleh pembiaran kebijakan.
“Ini bukan pawai biasa. Ini adalah perang psikologis dan diplomasi terbuka. Pesannya jelas, umat Islam Karawang tidak tinggal diam melihat kemungkaran dilembagakan,” tegas Kang Sunarto, Koordinator Aktivis Islam Karawang, yang menjadi salah satu narasumber utama dalam gerakan tersebut.
ASPIKA dan Kuatnya Persatuan Umat
Sunarto mengungkapkan, momentum 2018 itu menandai menguatnya persatuan umat Islam Karawang melalui wadah ASPIKA (Aliansi/Solidaritas Persatuan Islam Karawang), yang menghimpun berbagai ormas Islam, gerakan dakwah, habaib, kiai, ustaz, aktivis Islam, hingga mahasiswa.
Perbedaan latar belakang organisasi tidak menjadi penghalang. Semua larut dalam satu barisan perjuangan, amar ma’ruf nahi munkar.
“Pada masa itu, ukhuwah sangat terasa. Tidak ada sekat ormas, tidak ada ego kelompok. Yang ada hanya kepentingan umat dan masa depan Karawang,” lanjut Sunarto.
Lahirnya Forum Aktivis Islam
Menurut Sunarto, dari gelombang besar persatuan tersebut, lahirlah Forum Aktivis Islam, sebuah wadah diskusi strategis yang mempertemukan ulama, aktivis, mahasiswa, dan Pemerintah Kabupaten Karawang dalam satu meja dialog.
"Forum ini menjadi ruang adu gagasan sekaligus sarana menyampaikan tuntutan umat secara terbuka dan bermartabat, khususnya terkait regulasi miras, narkoba, dan operasional THM yang dinilai merusak sendi-sendi sosial dan keagamaan masyarakat," tegasnya.
Tuntutan Tegas: Tutup THM
Salah satu tuntutan paling keras yang disuarakan adalah penutupan total THM sebelum Ramadhan, atau bahkan penutupan permanen.
“Ramadhan harus disambut dengan kesucian, bukan dengan legalisasi maksiat. Jika pemerintah berpihak pada rakyat dan nilai agama, maka THM harus ditutup,” tandas Sunarto.
Menuju Karawang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur
Lebih lanjut Sunarto menegaskan, gerakan ini membawa cita-cita besar, menjadikan Karawang sebagai daerah yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur negeri yang baik, makmur, dan mendapat ampunan Allah.
"Parade Persatuan Ormas Islam 2018 kini dikenang sebagai tonggak sejarah ukhuwah mujahid Karawang, sebuah momentum ketika umat bersatu, berani, dan tegas menyampaikan kehendak moralnya kepada penguasa," ungkapnya.
"Rindu itu kini kembali menguat. Rindu persatuan. Rindu keberanian. Rindu Karawang yang bermartabat," pungkas Sunarto.
• Irfan

0 Komentar