Headline News

Muscab VI FSP TSK SPSI Karawang, Ujian Kepemimpinan di Tengah Gelombang Relokasi Industri

 

Foto : Calon ketua TSK SPSI Karawang Dion Untung Wijaya (kemeja biru) bersama Kadisnakertrans Karawang, Rosmalia Dewi di Muscab SPSI 2026.

Nuansametro.com - Karawang | Di tengah merosotnya industri tekstil, sandang, dan kulit (TSK) di Kabupaten Karawang, Pimpinan Cabang FSP TSK SPSI menggelar Musyawarah Cabang (Muscab) VI di Swiss-Belhotel Karawang, Kamis (12/2/2026). 

Forum lima tahunan ini bukan sekadar agenda rutin pemilihan ketua, melainkan momentum krusial menentukan arah perjuangan serikat di tengah gelombang relokasi industri dan ketatnya persaingan global.

Mengusung tema “Bersinergi Menghadapi Era Globalisasi dengan Kepemimpinan Profesional demi Kesejahteraan Pekerja”, muscab dihadiri unsur Disnakertrans Karawang, Apindo Karawang, serta Unit Intelkam Polres Karawang. 

Kehadiran para pemangku kepentingan ini menegaskan pentingnya sinergi dalam menjaga stabilitas hubungan industrial di daerah lumbung industri tersebut.

Kepala Disnakertrans Karawang, Rosmalia Dewi, menegaskan bahwa muscab merupakan forum strategis yang menentukan arah organisasi lima tahun ke depan.

“Agenda hari ini merupakan kegiatan lima tahunan yang menjadi rangkaian pemilihan ketua serikat sekaligus menentukan arah serikat itu sendiri,” ujarnya.

Rosmalia berharap ketua terpilih mampu menjaga keseimbangan organisasi, memberikan rasa nyaman bagi buruh sekaligus mempertimbangkan keberlangsungan perusahaan. Ia juga menyoroti kondisi industri TSK di Karawang yang kian menyusut.

“Saat ini industri tekstil, sandang, dan kulit di Karawang hanya tersisa empat perusahaan besar. Padahal sektor ini dulunya menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar,” ungkapnya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan nyata bagi kepemimpinan baru FSP TSK SPSI. Calon Ketua FSP TSK SPSI, Dion Untung Wijaya, SH, menyebut muscab kali ini berfokus pada pemilihan ketua serta penyusunan strategi perjuangan lima tahun mendatang. 

Proses pemilihan dilakukan melalui musyawarah mufakat, dan bila tak tercapai, akan dilanjutkan dengan voting tertutup. Sekitar 100 suara dari pimpinan unit kerja dan pengurus cabang akan menentukan arah kepemimpinan.

Menurut Dion, tema sinergi diangkat karena sektor TSK sedang berada dalam tekanan berat.

“Melihat keadaan hari ini, sektor sandang dan kulit sedang tidak baik-baik saja. Imbas kebijakan pemerintah juga mempunyai dampak besar bagi kami, khususnya pelaku industri TSK,” katanya.

Ia menyoroti fenomena hengkangnya sejumlah perusahaan dari Karawang ke Jawa Tengah, yang dinilai dipicu disparitas upah dan kebijakan ketenagakerjaan.

“Banyak perusahaan pindah ke Jawa Tengah. Ini menjadi kekhawatiran bersama, apalagi dengan perbedaan tingkat upah yang cukup signifikan,” ujarnya.

Sebagai langkah strategis, Dion menegaskan pihaknya akan memaksimalkan peran lembaga kerja sama tripartit untuk menyuarakan aspirasi buruh hingga ke tingkat pusat. 

Fokus utama saat ini adalah mendorong pengurangan disparitas upah di Jawa Barat agar iklim investasi dan perlindungan pekerja dapat berjalan beriringan.

“Di tingkat daerah ada lembaga kerja sama tripartit yang bertugas menyampaikan aspirasi ke bupati, pemerintah daerah hingga pusat. Ini akan kami optimalkan,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Apindo Karawang, H. Abdul Syukur, berharap muscab melahirkan pemimpin yang membumi dan memahami realitas buruh sekaligus tantangan dunia usaha.

“Semoga dari pemilihan ini lahir pemimpin yang pro terhadap kondisi buruh hari ini dan mampu menjaga iklim ketenagakerjaan yang kondusif,” katanya.

Muscab VI FSP TSK SPSI Karawang menjadi titik krusial: di satu sisi buruh menuntut perlindungan dan kesejahteraan, di sisi lain perusahaan menghadapi tekanan biaya dan persaingan global. 

Kepemimpinan baru yang lahir dari forum ini dituntut bukan hanya solid secara internal, tetapi juga cakap membangun jembatan dialog agar industri TSK tak benar-benar kehilangan pijakan di Karawang.


• Irfan Sahab 

0 Komentar

Posting Komentar
© Copyright 2022 - Nuansa Metro