![]() |
| Foto : Peristiwa Kontainer renggut tiga nyawa. |
Nuansametro.com - Karawang | Kecelakaan lalu lintas tragis kembali terjadi di underpass Jalan Baru arah Perumahan CKM, tepatnya di jalur irigasi tanggul Johar–CKM, Sabtu (16/2/2026). Insiden tersebut merenggut nyawa sepasang suami istri, sementara seorang anak dilaporkan dalam kondisi kritis.
Peristiwa nahas itu diduga terjadi akibat kelalaian sopir kontainer yang masuk dan berbelok ke jalur tersebut. Dugaan sementara menyebutkan kendaraan besar itu bisa jadi mengikuti petunjuk aplikasi navigasi digital, namun motif pastinya masih dalam penyelidikan Polres Karawang.
Tokoh masyarakat sekaligus Direktur Mahar Kurnia Institute, Mahar Kurnia, yang ditemui di lokasi kejadian oleh Media Nuansa Metro, menyampaikan keprihatinan mendalam atas tragedi tersebut. Ia menilai kecelakaan itu bukan sekadar kelalaian individu, melainkan cerminan buruknya tata kelola keselamatan jalan.
“Ini bukti nyata dan konkret bahwa pemerintah tidak pernah benar-benar hadir melindungi rakyatnya. Jalur ini sudah lama digunakan masyarakat, tetapi berada dalam zona bahaya tanpa perhatian serius,” tegas Mahar.
Jalan Rusak, Minim Rambu, Gelap Gulita
Menurut Mahar, kondisi jalan di kawasan tersebut jauh dari standar keselamatan. Jalan berlubang, minim rambu lalu lintas, serta kurangnya penerangan menjadi ancaman nyata bagi pengendara, terutama pada malam hari.
Ia juga menyoroti banyaknya jalur alternatif dan jalan berstatus mukim di berbagai sudut kota yang luput dari perhatian pemerintah. Padahal, jalur-jalur tersebut aktif digunakan masyarakat setiap hari.
“Coba cek langsung ke lapangan. Banyak jalan yang dipakai warga, tapi tak pernah disentuh perbaikan. Kita seperti hidup di hutan belantara,” ujarnya tajam.
Potensi Lempar Tanggung Jawab
Mahar mengingatkan agar tragedi ini tidak kembali berujung pada saling lempar tanggung jawab antarinstansi, baik Pemerintah Kabupaten, pengelola sumber daya air, pemerintah provinsi, maupun pemerintah pusat.
“Seperti biasa, nanti akan saling menyalahkan. Pemkab, provinsi, nasional, semua bisa berdalih bukan kewenangan mereka. Sementara nyawa terus berjatuhan,” katanya.
Ia mendesak pemerintah daerah dan anggota legislatif agar memiliki kepekaan sosial dan tidak hanya bertindak setelah terjadi korban jiwa.
“Jangan tunggu ada kejadian baru bergerak. Penutupan akses jalan oleh dinas perhubungan baru dilakukan setelah insiden. Kemarin ke mana saja?” sindirnya.
Penertiban Jalur dan “Pak Ogah”
Selain infrastruktur, Mahar juga menyoroti praktik penyeberang jalan tidak resmi atau yang dikenal sebagai “pak ogah” di sejumlah titik rawan.
Ia meminta pemerintah dan aparat melakukan penertiban, pembinaan, dan pengawasan berkelanjutan demi keselamatan bersama.
Ia juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati, terutama saat melintasi jalur tikus dan jalur irigasi yang rawan kecelakaan serta minim sarana prasarana.
“Pemerintah harus turun tangan. Keselamatan masyarakat adalah kebutuhan dasar yang tak boleh diabaikan,” pungkasnya.
Tragedi ini kembali menjadi alarm keras bahwa keselamatan jalan bukan sekadar urusan teknis, melainkan soal keberpihakan dan tanggung jawab negara terhadap warganya.
• Irfan Sahab

0 Komentar