![]() |
| Foto : Proyek peningkatan jalan Pawarengan–Tirtasari di Desa Karangsinom, Kecamatan Tirtamulya, Kabupaten Karawang, menuai kritik tajam dari masyarakat setempat. |
Nuansametro.com - Karawang | Proyek peningkatan jalan Pawarengan–Tirtasari di Desa Karangsinom, Kecamatan Tirtamulya, Kabupaten Karawang, menuai kritik tajam dari masyarakat setempat. Pekerjaan yang dilaksanakan oleh CV Hutami & CO itu dinilai dikerjakan asal-asalan dan diduga tidak sesuai spesifikasi teknis.
Hasil pantauan di lapangan menunjukkan tumpukan material berupa beskos dan batu kapur dibiarkan berserakan di sepanjang jalan usai pengecoran yang telah berlangsung sekitar dua hari.
Kondisi tersebut membuat permukaan jalan menjadi licin saat hujan turun, sehingga membahayakan pengguna jalan, khususnya pengendara sepeda motor.
Tak hanya soal keselamatan, kualitas material yang digunakan juga menjadi sorotan warga. Batu kapur yang digunakan dalam proyek tersebut terlihat berwarna kemerahan dan kotor, berbeda dengan standar batu kapur putih bersih yang lazim digunakan untuk pekerjaan jalan.
“Batu kapurnya merah seperti tanah, bukan putih bersih seperti biasanya. Kami ragu ini bisa kuat dan awet,” ujar salah satu warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Selain kualitas material, warga juga mengeluhkan hasil pengecoran yang dinilai tidak rapi. Permukaan jalan terlihat tidak rata, bergelombang, bahkan terdapat genangan air di beberapa titik.
“Pengecorannya terkesan asal jadi. Jalan tidak rata dan ada air yang menggenang. Ini jelas tidak sesuai harapan masyarakat,” ungkap warga tersebut dengan nada kecewa.
Atas kondisi itu, warga mendesak pihak terkait, khususnya dinas teknis dan pengawas proyek, untuk segera turun ke lapangan dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pekerjaan yang dilakukan CV Hutami & CO.
Mereka meminta agar proyek dikerjakan sesuai spesifikasi agar hasilnya berkualitas dan tidak merugikan masyarakat.
“Kalau ini proyek pemerintah, seharusnya dikerjakan dengan benar. Bukan asal jadi dan justru menyusahkan warga,” tegasnya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, pengawas dari PUPR berinisial H. Suhud tidak memberikan tanggapan. Pesan yang dikirim hanya terbaca tanpa adanya balasan.
Sikap tersebut menimbulkan tanda tanya di kalangan masyarakat dan memunculkan dugaan kurangnya pengawasan terhadap proyek tersebut.
Warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera bertindak tegas agar pembangunan infrastruktur benar-benar memberikan manfaat, bukan justru menimbulkan masalah baru dan mengancam keselamatan masyarakat.
• Bodong


0 Komentar