![]() |
| Foto : |
Nuansametro.com - Jakarta | Pidato Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi sorotan dunia. Dalam momen bersejarah itu, Prabowo mengangkat isu sensitif seperti konflik Palestina-Israel, hak asasi manusia, hingga pesan toleransi antaragama mencerminkan gaya diplomasi baru Indonesia yang tegas, seimbang, dan menggugah nurani dunia.
Guru Besar Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof. Dr. Harris Arthur Hedar, menilai pidato Prabowo bukan sekadar agenda rutin seorang kepala negara, melainkan pernyataan sikap global dari pemimpin yang percaya diri dan berpihak pada prinsip universal.
“Pidatonya bukan hanya terdengar, tapi dirasakan,” ujar Harris.
“Ia menegaskan bahwa kesetaraan manusia bukan slogan kosong, melainkan prinsip yang harus diperjuangkan dengan nyata.”
Dukung Palestina, Sentuh Keamanan Israel: Diplomasi Realistis
Salah satu bagian paling mencolok dari pidato Prabowo adalah keberaniannya menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina.
Namun uniknya, ia juga menyinggung pentingnya menjaga stabilitas keamanan Israel sebuah langkah diplomatik berani yang menunjukkan keseimbangan pandangan dan keterbukaan terhadap dialog.
“Indonesia tampil sebagai jembatan moral, bukan hanya berbicara soal keadilan, tetapi juga memahami kompleksitas geopolitik dunia,” jelas Harris, yang juga Ketua Umum Ikatan Alumni Doktor Ilmu Hukum (IADIH).
Pesan Pluralisme dan Momen Mikrofon Mati
Pidato Prabowo diakhiri dengan salam lintas agama "Assalamu’alaikum”, “Shalom”, “Om Swastiastu”, “Namo Buddhaya”, dan “Salam Kebajikan” sebuah simbol kuat Indonesia sebagai bangsa plural yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan religiusitas.
Menariknya, pidato Prabowo sempat terpotong karena batasan waktu lima menit. Mikrofon sempat mati, namun pesan kuatnya justru terasa makin dalam.
“Kebenaran tidak butuh waktu panjang. Kendati ada batasan, publik melihat Prabowo sebagai pemimpin yang tidak gentar oleh hambatan,” ujar Harris.
Respons Dunia: Pujian dari Media Global hingga Donald Trump
Pidato Prabowo menuai respons positif dari berbagai penjuru dunia. Media Israel menyoroti salam “Shalom”, sementara media internasional memuji sikap berani Prabowo menyuarakan isu Palestina secara lugas dan substansial.
Bahkan mantan Presiden AS, Donald Trump, disebut turut memuji pidato tersebut sebagai representasi suara dari bangsa besar yang layak diperhitungkan dalam tatanan dunia.
“Pujian ini menegaskan bahwa Indonesia kini bukan hanya penonton, tapi pemain penting di panggung global,” ungkap Harris.
Diplomasi Kebenaran: Indonesia Ambil Peran Strategis Dunia
Lebih dari sekadar pidato, Prabowo dinilai telah menyampaikan “diplomasi kebenaran” menggabungkan moralitas universal, kepentingan nasional, dan strategi luar negeri yang proporsional.
“Indonesia berbicara dengan prinsip, bukan tekanan. Momentum ini bisa menjadi babak baru peran Indonesia dalam percaturan dunia internasional,” tutup Harris.
Penulis: David Hardson S

0 Komentar