![]() |
| Foto : Pabrik minyak makan merah pertama di Indonesia yang terletak di Desa Pagar Merbau II, Kecamatan Pagar Merbau, Kabupaten Deli Serdang, tampak sepi aktivitas. |
Nuansametro.com – Deli Serdang | Pabrik minyak makan merah pertama di Indonesia yang terletak di Desa Pagar Merbau II, Kecamatan Pagar Merbau, Kabupaten Deli Serdang, tampak sepi aktivitas.
Padahal, pabrik ini telah diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada 14 Maret 2024 lalu sebagai proyek percontohan nasional.
Saat tim NuansaMetro.com mengunjungi lokasi pada Jumat (12/9/2025), tidak terlihat adanya aktivitas produksi maupun karyawan yang bekerja. Bangunan pabrik tampak sunyi, dan suasana sekitar lengang tanpa tanda-tanda operasional berjalan.
Warga: Dulu Ramai, Kini Sunyi
Menurut keterangan warga sekitar, sejak beberapa bulan terakhir, aktivitas pabrik nyaris tidak terlihat. Karyawan yang sebelumnya sempat direkrut pun disebut sudah kembali ke kampung halaman masing-masing.
“Dulu sempat ada anak-anak yang ngontrak di sini karena kerja di pabrik itu. Tapi cuma kerja beberapa hari, setelah itu katanya dirumahkan. Ya mereka akhirnya pulang kampung,” ujar Rusli, warga setempat, Minggu (14/9/2025).
Manajemen Bantah “Mangkrak”, Klaim Produksi Berjalan
Saat dikonfirmasi, Manajer Pabrik, Roni Lesmana, membantah bahwa pabrik tersebut mangkrak. Ia menyatakan bahwa produksi masih berjalan, namun berdasarkan sistem made-to-order atau sesuai permintaan pasar.
“Kami tetap produksi, bahkan sekarang kapasitas kita sudah meningkat dari sebelumnya 10 ton menjadi 15 ton. Tapi memang karena kendala pemasaran, produksi dilakukan saat ada pesanan,” jelas Roni.
Roni juga menambahkan bahwa saat ini pihaknya memiliki stok sekitar 10 ton minyak makan merah yang dijual dengan harga premium Rp25.000 per kilogram. Harga tersebut dianggap sebanding dengan kualitas dan kandungan gizi yang lebih tinggi dibandingkan minyak goreng biasa.
“Kami bukan berhenti, tapi strategi produksi kami menyesuaikan permintaan pasar. Karyawan juga masih ada, dari 30 orang kini tinggal 10 yang aktif bekerja,” tambahnya.
Proyek Nasional Bernilai Rp23 Miliar, Kini Terancam Sepi Pasar
Pabrik minyak makan merah ini dibangun dengan nilai investasi sebesar Rp23 miliar sebagai bagian dari program nasional Kementerian Koperasi dan UKM.
Proyek ini didukung oleh PTPN Group, BPDPKS, serta koperasi lokal KOPUJA (Koperasi Petani Pujakesuma) sebagai pengelola utama.
Program ini semula digagas untuk menjawab keluhan masyarakat atas mahalnya harga minyak goreng di pasaran. Minyak makan merah diharapkan dapat dijual dengan harga terjangkau Rp15.000 per kilogram, namun kini justru dijual dengan harga premium.
Nasib Pabrik Pascakepemimpinan Presiden Jokowi
Setelah diresmikan Presiden Jokowi, proyek ini sempat digadang-gadang sebagai solusi nasional. Namun berakhirnya masa jabatan Jokowi membuat proyek ini seolah kehilangan arah. Warga bahkan mengaku belum pernah melihat atau mencoba minyak makan merah yang dihasilkan pabrik ini.
“Banyak warga di sini bahkan tidak tahu seperti apa minyak makan merah itu. Padahal pabriknya ada di depan mata,” ungkap salah satu tokoh masyarakat.
Catatan: Perlu Evaluasi dan Dukungan Lanjutan
Proyek pabrik minyak makan merah di Deli Serdang bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan bagian dari upaya besar membangun ekonomi kerakyatan berbasis koperasi dan teknologi lokal. Namun, tanpa dukungan pemasaran yang kuat dan komitmen berkelanjutan, proyek seperti ini rawan stagnasi.
Pabrik ini adalah satu dari tiga pabrik sejenis di Sumatera Utara, berdampingan dengan pabrik di Kabupaten Langkat dan Asahan, dikelola oleh koperasi berbeda. Ketiganya semestinya menjadi simbol keberhasilan program hilirisasi sawit yang berpihak kepada rakyat.
Kini, publik menantikan langkah nyata dari pihak terkait, termasuk pemerintah pusat dan daerah, untuk menyelamatkan investasi dan harapan yang pernah dibangun bersama.
Laporan: Romson Nainggolan

0 Komentar