![]() |
| Foto : Praktisi Sosial Jawir Rifai (kemeja Kuning) |
Nuansametro.com - Karawang | Kasus hukum antara Stephanie Sugianto dan ibu kandungnya, Kusumayati, kembali mencuat dan menjadi sorotan tajam dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Praktisi Sosial Kabupaten Karawang, Jawir Rifai, yang menilai kasus ini sebagai bentuk krisis moral yang perlu menjadi pelajaran bersama.
Dalam keterangannya kepada media pada Kamis (4/9/2025), Jawir menyayangkan tindakan Stephanie yang memilih jalur hukum untuk menyelesaikan persoalan pribadi dengan sang ibu.
“Saya perhatikan, kasus anak menggugat ibu kandung ini sudah sangat keterlaluan secara norma. Apapun alasannya, ini menyentuh batas moral yang semestinya dijaga dalam hubungan anak dan orang tua,” ujarnya.
Kasus Bermula dari Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan
Kasus ini pertama kali mencuat pada tahun 2023 lalu, ketika Stephanie melaporkan ibunya, Kusumayati, ke pihak berwajib atas dugaan pemalsuan tanda tangan. Proses hukum pun berlanjut hingga ke meja hijau di Pengadilan Negeri Karawang.
Jawir tak menampik bahwa secara hukum, tindakan pemalsuan adalah tindak pidana. Namun, ia mengajak semua pihak untuk melihat persoalan ini dari sudut pandang yang lebih luas.
“Betul, ini pidana. Tapi dalam adat ketimuran kita, ada nilai moral yang tak bisa diabaikan. Seburuk apa pun orang tua, ada batas etika yang seharusnya dijaga oleh seorang anak,” tegasnya.
Pesan untuk Penegak Hukum: Tegakkan Keadilan dengan Hati Nurani
Jawir juga berharap agar aparat penegak hukum tidak hanya berpegang pada teks hukum semata, melainkan juga mempertimbangkan aspek moral dan kemanusiaan dalam menyikapi perkara-perkara serupa.
“Saya berpesan kepada aparat hukum agar bijak. Pertimbangkan asas keadilan, kemanfaatan, dan juga nilai-nilai moral. Jangan sampai hukum menjadi tumpul ke atas, tajam ke bawah. Harus ada keadilan yang menyentuh hati, baik bagi si anak maupun sang ibu,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kasus ini harus menjadi refleksi bagi masyarakat luas tentang pentingnya menjaga keharmonisan keluarga, serta tidak mudah mengambil jalur hukum dalam menyelesaikan persoalan internal.
Hormati Orang Tua, Jaga Warisan Moral Bangsa
Menutup pernyataannya, Jawir mengingatkan bahwa dalam budaya timur, memuliakan orang tua adalah fondasi moral yang tak bisa ditawar. Ia mengajak generasi muda untuk lebih bijak dalam menyikapi konflik keluarga.
“Seburuk-buruknya ibu, anak tetap lahir dari rahimnya. Jangan lupakan itu. Hormat kepada orang tua adalah warisan nilai yang harus kita jaga bersama,” pungkasnya.
Reporter: Irfan Sahab

0 Komentar