![]() |
| Foto : Suasana saat Muscab Percasi kabupaten Karawang walaupun berakhir deadlock. |
Nuansametro.com - Karawang | Polemik Musyawarah Cabang (Muscab) Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Karawang terus menjadi sorotan tajam di kalangan pecinta olahraga catur.
Kegagalan Muscab yang digelar beberapa waktu lalu untuk menetapkan Ketua Percasi Karawang baru, memicu kekecewaan luas dan menimbulkan tanda tanya besar terkait integritas panitia pelaksana.
Banyak pihak menilai, panitia Muscab gagal menjalankan amanat organisasi secara profesional. Tuduhan ketidaknetralan, minimnya akuntabilitas, serta pelanggaran terhadap AD/ART dan tata tertib yang telah disepakati, dinilai mencoreng nama baik Percasi Karawang.
Salah satu pecatur senior Karawang, Saefuloh, dengan tegas mengungkapkan kekecewaannya atas kegagalan Muscab tersebut.
Ia menuding panitia Muscab tidak menunjukkan komitmen dan integritas dalam menjalankan tugasnya.
“Panitia telah mencoreng nama Percasi Karawang. Mereka membuat sendiri AD/ART dan tata tertib, tapi tidak mampu menjalankannya secara konsisten. Seharusnya panitia punya hak dan kekuatan untuk memutuskan hasil Muscab, bukan malah menggantung keputusan,” tegas Saefuloh.
Mundur Tapi Tetap Diusung: Akar Deadlock di Muscab
Saefuloh juga menyoroti sikap tim pemenangan calon ketua Maslani yang terdiri dari Risman L. Sipayung, Dudung, dan Purwadi yang dinilai ngotot mengusung Maslani meskipun sang calon telah menyatakan pengunduran dirinya secara terbuka.
“Maslani sudah mengundurkan diri. Tapi tim pemenangannya justru memaksakan pencalonan tetap berjalan. Ini jelas memicu kebuntuan. Bahkan mencoreng nama baik Maslani yang saat ini menjabat sebagai Wakil Bupati Karawang,” ujarnya.
Kebijakan Perpanjangan Masa Jabatan Petahana Dipertanyakan
Lebih jauh, Saefuloh juga mempertanyakan keputusan pengurus Percasi, khususnya Ketua Percasi Karawang saat ini, Relisman Nasution, yang memperpanjang masa jabatan pengurus selama 6 bulan tanpa kepastian jadwal Muscab ulang.
“Keputusan memperpanjang masa jabatan dan mengagendakan Muscab ulang tanpa tenggat waktu jelas sangat disayangkan. Ini menjadi tanda tanya besar bagi komunitas catur di Karawang ada apa sebenarnya di balik semua ini?” lanjut Saefuloh.
Harapan untuk Catur Karawang
Di tengah kisruh yang terjadi, Saefuloh tetap berharap Muscab Percasi Karawang bisa segera digelar kembali dalam waktu dekat, demi keberlangsungan organisasi dan pembinaan atlet catur Karawang.
“Kami ingin semua ini segera selesai. Catur Karawang harus diselamatkan. Mari bersama-sama berjuang membesarkan olahraga catur agar mampu mengharumkan nama Karawang di tingkat regional maupun nasional,” pungkasnya.
Polemik Muscab Percasi Karawang bukan hanya soal jabatan, tapi menyangkut masa depan pembinaan dan prestasi catur di Kabupaten Karawang.
Transparansi, komitmen terhadap aturan organisasi, serta semangat fair play kini menjadi tuntutan utama publik.
• Irfan Sahab

0 Komentar