Nuansametro.com - Karawang|
Produktivitas hasil panen padi di Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang, menunjukkan kinerja yang cukup baik meskipun menghadapi sejumlah tantangan.
Dari total luas lahan sawah sekitar 5.156 hektare, sebanyak 3.260 hektare telah berhasil dipanen. Hal ini diungkapkan Kepala UPTD Pertanian Kecamatan Pedes, Dias Sunandar.
Menurut Dias, panen di bulan Mei bahkan berhasil melampaui target dengan produktivitas mencapai 7 ton per hektare.
Namun, hasil panen pada bulan Juni hingga Juli sedikit menurun menjadi 6,8 ton per hektare, yang disebabkan oleh beberapa faktor teknis.
"Salah satunya adalah perubahan iklim yang ekstrem, sehingga pertumbuhan tanaman tidak optimal. Selain itu, tingkat keasaman tanah (pH) di wilayah Kecamatan Pedes yang rata-rata antara 5,3 hingga 5,6 juga menjadi penyebab menurunnya produktivitas," jelasnya.
Solusi Perbaikan Tanah dan Edukasi Petani
Untuk mengatasi persoalan pH tanah yang cenderung asam, Dias menyarankan penggunaan dekomposer (dekomid) atau kapur pertanian guna meningkatkan pH tanah agar lebih netral. Perbaikan struktur tanah juga menjadi fokus utama.
Selain itu, para petani juga dihimbau untuk tidak lagi membakar jerami setelah panen. Sebaliknya, jerami sebaiknya disebar di lahan dan diberi bakteri N4 agar cepat terurai dan menambah kandungan organik tanah.
Langkah selanjutnya adalah pemberian kapur kaptan dengan dosis 5 kwintal per hektare serta pupuk organik cair sebelum pengolahan tanah dilakukan.
"Jerami yang dibakar justru merusak tanah. Dengan menyebarkannya kembali dan mengolah secara alami, tanah bisa kembali subur," imbuh Dias.
Pentingnya Kekompakan Kelompok Tani dan Perbaikan Irigasi
Dias juga menekankan pentingnya kekompakan dan kesadaran para kelompok tani dalam mengelola pertanian. Tanpa kolaborasi dan semangat gotong royong, program-program pertanian tidak akan berjalan efektif.
Selain itu, kondisi saluran irigasi sekunder juga menjadi sorotan. Banyak pintu air dari BS 3 hingga BS 10 yang sudah rusak dan tidak layak pakai. Pihak UPTD bersama camat setempat telah mengusulkan perbaikannya ke instansi terkait.
Sementara itu, saluran pembuangan seperti Cirombeng dan Cisoga juga mengalami pendangkalan. UPTD telah mengajukan permohonan normalisasi ke BBWS dan Dinas PUPR, dan untuk sementara, dilakukan aksi padat karya untuk membersihkan saluran air.
Pelatihan dan Inovasi Pertanian
Sebagai bagian dari penguatan kapasitas petani, UPTD juga rutin mengadakan pelatihan pembuatan pupuk organik dari kotoran hewan (VOC) serta pengembangan pestisida nabati.
"Kami terus mendorong inovasi dan kemandirian petani agar mampu mengatasi tantangan pertanian secara berkelanjutan," tutup Dias.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan pertanian di Kecamatan Pedes dapat semakin maju dan hasil panen ke depan bisa lebih optimal meskipun menghadapi tantangan iklim dan kondisi tanah.
• ZIS
0 Komentar